Senin, 8 Juni 2026

Sosok

Eks Karyawan Krakatau Steel Ini Tak Pernah Sangka Kini Jadi Anggota DPRD Banten

Pengalaman itu, menurutnya, menjadi fondasi ketahanan hidup yang membentuk karakter hingga mampu bertahan di dunia politik.

Tayang: | Diperbarui:
Tribuntangerang.com/Wartakota Network/Bima
SOSOK - Profil Muhsinin, perjalanan hidup penuh perjuangan, dari masa kecil yang serba kekurangan, menanggung enam adik yatim piatu dengan gaji Rp60 ribu, hingga dipercaya menjadi anggota DPRD Provinsi Banten, (Dokumentasi Wartakota Network/Bima) 

Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, SERANG - Di tengah kabar penutupan operasional Krakatau Osaka Steel di Cilegon, Banten, sosok anggota DPRD Provinsi Banten Muhsinin kembali mengenang perjalanan panjangnya sebagai mantan karyawan perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Pengalaman itu, menurutnya, menjadi fondasi ketahanan hidup yang membentuk karakter hingga mampu bertahan di dunia politik.

Muhsinin mengaku pernah menjadi bagian dari Krakatau Steel sejak era 1980-an, saat perusahaan tersebut masih menjadi kebanggaan industri baja nasional.

"Saya masuk KS itu tahun 84,” ujar Muhsinin kepada Warta Kota Network, Serang, Banten, Jumat (5/6/2026).

Sebelum bekerja di perusahaan tersebut, ia menuturkan kehidupan masa kecilnya jauh dari kata cukup.

Dirinya harus membantu orang tua berdagang sejak masih duduk di bangku sekolah.

“Saya waktu SD jualan es yang ditenten-tenten itu,” katanya mengenang masa lalu.

Bahkan, ia menyebut sudah terbiasa ikut membantu orang tua berjualan ikan di pasar sejak kelas lima SD. Kondisi itu membuatnya tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup harus diperjuangkan sejak dini.

“Makanya hidup itu jangan begini, harus begini,” ucapnya.

Setelah lulus sekolah, ia sempat bekerja sebagai helper sebelum akhirnya masuk ke lingkungan industri di kawasan PLTU Suralaya.

Menurutnya, masa-masa itu penuh tantangan karena pendapatan yang sangat terbatas.

Ia menyebut saat pertama bekerja di Krakatau Steel, gaji yang diterimanya hanya sekitar Rp60.000.

Keadaan tersebut mengharuskannya memutar otak untuk bertahan hidup sekaligus menanggung tanggung jawab keluarga.

“Di KS waktu itu saya gaji 60 ribu, menafkahi,” ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved