News Analysis
Jangan Sepelekan Sembelit, Bisa Jadi Gejala Kanker Usus
kasus, sembelit atau konstipasi terjadi karena pola makan rendah serat, kurang cairan, dan minim aktivitas fisik
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Dr. Andrianto, Sp.B, Subsp.BD (K)
Subspesialis Bedah Digestif Rumah Sakit St. Carolus Summarecon Serpong, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten.
Saya masih sering menemui pasien yang datang dengan keluhan susah buang air besar yang sudah berlangsung cukup lama, tetapi sebelumnya dianggap sepele. Banyak yang mengira kondisi tersebut hanya akibat kurang makan sayur atau kurang minum air putih.
Memang benar, dalam banyak kasus, sembelit atau konstipasi terjadi karena pola makan rendah serat, kurang cairan, dan minim aktivitas fisik. Kondisi ini umumnya membaik setelah asupan serat ditingkatkan, minum air 6-8 gelas per hari, dan rutin berolahraga.
Namun, masyarakat perlu memahami tidak semua susah BAB adalah masalah ringan. Jika keluhan tidak membaik setelah perubahan pola hidup, terutama lebih dari dua minggu, kondisi ini perlu diwaspadai dan diperiksakan lebih lanjut.
Salah satu tanda yang patut diperhatikan adalah perubahan bentuk feses. Jika BAB menjadi kecil-kecil seperti kotoran kambing atau pipih dan panjang seperti pensil, ini bisa menjadi sinyal adanya penyempitan di dalam usus besar.
Penyempitan tersebut dapat disebabkan adanya pertumbuhan jaringan abnormal, termasuk tumor. Ketika ada massa di dalam usus, jalur keluarnya feses menjadi lebih sempit sehingga bentuknya ikut berubah.
Gejala lain yang tidak boleh diabaikan adalah adanya darah pada feses. Darah bisa tampak merah segar atau berwarna lebih gelap. Kondisi ini sering kali dianggap hanya sebagai wasir, padahal bisa juga menjadi tanda masalah yang lebih serius pada usus besar.
Nyeri perut yang terjadi terus-menerus atau semakin sering juga perlu menjadi perhatian. Terutama jika disertai perut terasa kembung, begah, dan tidak nyaman dalam waktu lama tanpa sebab yang jelas.
Selain itu, penurunan berat badan tanpa diet atau perubahan pola makan juga merupakan tanda bahaya. Jika berat badan turun signifikan tanpa upaya khusus, perlu dicari penyebab medis yang mendasarinya.
Ada pula kondisi yang disebut tenesmus, yaitu rasa ingin BAB tetapi tidak tuntas. Pasien merasa masih ada yang mengganjal meski sudah ke toilet, dan yang keluar hanya sedikit. Sensasi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan di bagian bawah usus besar atau rektum.
Perlu dibedakan, konstipasi biasa umumnya membaik dengan perubahan gaya hidup dan kadang bantuan obat pencahar sesuai anjuran dokter. Namun, jika keluhan menetap, justru semakin berat, atau disertai gejala-gejala tadi, evaluasi medis menjadi sangat penting.
Saat ini, kanker usus besar tidak hanya terjadi pada usia lanjut. Meski risiko meningkat pada usia di atas 45 tahun, kasus pada usia lebih muda juga mulai ditemukan, terutama pada mereka dengan pola makan rendah serat, kebiasaan merokok, obesitas, dan kurang aktivitas fisik.
Untuk memastikan kondisi usus, dokter dapat menyarankan pemeriksaan seperti kolonoskopi. Prosedur ini menggunakan selang kecil berkamera yang dimasukkan melalui anus untuk melihat langsung kondisi usus besar dan mendeteksi adanya polip atau tumor sejak dini.
Kabar baiknya, kanker usus besar memiliki peluang sembuh yang lebih tinggi jika terdeteksi pada stadium awal. Penanganan dapat berupa operasi pengangkatan bagian usus yang terkena, dan bila diperlukan dilanjutkan dengan terapi tambahan sesuai stadium penyakit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/DOKTER-ANDRIANTO.jpg)