Kamis, 14 Mei 2026

Liputan Khusus

Mengubah Mindset Sampah, Perjuangan Panjang Edukasi Warga Mulai dari Nol

Pendiri Komunitas Pilah Sampah, Nahdya Maulina mengatakan komunitas tersebut berdiri pada 2020 saat pandemi Covid-19. 

Tayang:
Tribuntangerang.com/Ikhwana Mutuah Mico
KOMUNITAS PILAH SAMPAH - Nahdya Maulina menjelaskan tentang Komunitas Pilah Sampah,  (TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico)   

Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, SERPONG - Sebuah rumah edukasi di Jalan Celenggang 2, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten tumpukan ember berlabel plastik, kertas, hingga logam tersusun rapi. 

Rumah satu lantai itu menjadi ruang belajar sekaligus penampungan sementara sampah terpilah dari rumah tangga. 

Di sanalah Komunitas Pilah Sampah berupaya mengubah cara pandang warga terhadap sampah, dimulai dari kebiasaan paling sederhana di rumah.

Pendiri Komunitas Pilah Sampah, Nahdya Maulina mengatakan komunitas tersebut berdiri pada 2020 saat pandemi Covid-19. 

Awalnya, ia hanya mengajak tetangga dan teman-temannya mengumpulkan beberapa jenis sampah di carport rumahnya. 

"Saya sendiri sudah memilah sampah secara mandiri lebih dari 10 tahun. Baru tahun 2020 saya berani mengajak orang sekitar untuk mulai memilah,” ujar Nahdya kepada TribunTangerang.com di Serpong, Tangsel, Minggu (10/5/2026).

Menurut Nahdya, sampah memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, sampah masih memiliki nilai ekonomi dan dapat digunakan kembali.

Namun di sisi lain, wanita berumur 41 tahun itu mengatakan sampah yang tidak dikelola akan menumpuk di tempat pembuangan akhir dan memicu persoalan lingkungan maupun sosial. 

"Kalau sampah tidak dikelola, dia akan dibawa ke TPA dan menumpuk. Padahal sebenarnya sampah masih punya nilai ekonomi,” katanya.

Kesadaran warga untuk memilah sampah, kata Nahdya, tidak tumbuh dalam waktu singkat. 

Ia menilai tantangan terbesar justru berasal dari kebiasaan lama yang diwariskan turun-temurun, seperti membakar sampah daun atau mencampur seluruh sampah rumah tangga. 

“Kesadaran itu lama. Karena orang punya warisan pengetahuan dari dulu, misalnya membakar sampah dianggap biasa dan tidak masalah,” ujarnya.

Karena itu, komunitas lebih banyak bergerak lewat edukasi dan kampanye yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. 

Mereka rutin mengadakan webinar bulanan, turun langsung ke masyarakat setiap tiga bulan, hingga membuat permainan edukasi dan buku saku tentang pengelolaan sampah

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved