Bandara

Pandemi, AP II Lakukan Ini untuk Jaga Keuangan Sekaligus Kembangkan Infrastruktur Penting Bandara

PT Angkasa Pura II (Persero) yang mengelola 20 bandara di Indonesia menjalankan strategi Business Survival dengan memperketat cost leadership.

Penulis: Mohamad Yusuf | Editor: Mohamad Yusuf
Angkasa Pura II
Pandemi COVID-19 menghadirkan tantangan terberat sepanjang sejarah bagi dunia penerbangan global termasuk di Indonesia. Menjawab tantangan itu, PT Angkasa Pura II (Persero) yang mengelola 20 bandara di Indonesia menjalankan strategi Business Survival dengan memperketat cost leadership (mengukur hasil yang didapat dengan biaya yang dikeluarkan) dalam setiap program, serta cash flow management (pengaturan arus keluar-masuk kas) secara efisien. 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Pandemi COVID-19 menghadirkan tantangan terberat sepanjang sejarah bagi dunia penerbangan global termasuk di Indonesia.

Menjawab tantangan itu, PT Angkasa Pura II (Persero) yang mengelola 20 bandara di Indonesia menjalankan strategi Business Survival dengan memperketat cost leadership (mengukur hasil yang didapat dengan biaya yang dikeluarkan) dalam setiap program, serta cash flow management (pengaturan arus keluar-masuk kas) secara efisien.

Sebagai upaya meningkatkan cost leadership dan cash flow management di tengah pandemi, AP II mengimplementasikan skema supplier financing guna menjaga pengembangan dan pembangunan infrastruktur yang dinilai penting untuk mendukung operasional bandara dan pemulihan ekonomi nasional.

Director of Finance and Risk Management PT Angkasa Pura II (Persero) Wiweko Probojakti mengatakan AP II menandatangani skema supplier financing bersama dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan Bank Mandiri untuk pembiayaan 4 pekerjaan dengan nilai maksimal Rp400 miliar.

Keempat pekerjaan itu adalah pembangunan hotel domestik Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, jasa konstruksi lanjutan pekerjaan aksesibilitas, pelebaran dan perpanjangan runway Bandara Banyuwangi, dan perluasan gedung Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

"Supplier Financing ini adalah salah satu opsi pendanaan yang prosesnya sederhana dan bunga yang kompetitif, karena ada kepentingan 3 pihak di sana yakni AP II selaku pemberi pekerjaan, lalu WIKA sebagai kontraktor (supplier) dan Bank Mandiri sebagai lembaga keuangan yang melakukan pembiayaan sehingga ini bisa mewujudkan cost leadership,” Wiweko Probojakti yang biasa disapa Dodit.

Dodit menjelaskan melalui opsi supplier financing ini, bank akan membayarkan terlebih dahulu tagihan dari kontraktor.

Skema ini akan membuat AP II bisa lebih efisien dalam mengatur cash flow.

“Opsi supplier financing ini juga untuk memastikan pembangunan infrastruktur di bandara AP II dapat tetap berjalan sehingga daya saing bandara dapat tetap terjaga dan mendukung pemulihan ekonomi nasional,” jelas Dodit.

Lunasi obligasi

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved