Edukasi

Waspadai Kebutaan karena Glaukoma! Cegah dengan Deteksi Dini

Glaukoma adalah kerusakan pada saraf mata akibat tingginya tekanan di dalam bola mata. Glaukoma menyebabkan kebutaan permanen. 

Penulis: | Editor: Lilis Setyaningsih
pexels/min-an
Penyakit glaukoma masih perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Glaukoma adalah kerusakan pada saraf mata akibat tingginya tekanan di dalam bola mata. 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG – Penyakit glaukoma masih perlu mendapat perhatian serius di Indonesia.

Glaukoma adalah kerusakan pada saraf mata akibat tingginya tekanan di dalam bola mata. Glaukoma menyebabkan kebutaan permanen. 

Kondisi ini ditandai dengan nyeri di mata, mata merah, penglihatan kabur, serta mual dan muntah.

Prevalensi glaukoma di Indonesia mencapai 0,46 persen atau setiap 4 sampai 5 orang per 1.000 penduduk.

Baca juga: Program Winning Meals Kachimeshi dilanjutkan di Sea Games ke 31  Vietnam

Lebih spesifik lagi, sebuah studi memperlihatkan, bahwa di DKI Jakarta, prevalensi glaukoma primer sudut tertutup (GPSTp) sebesar 1,89 persen, sedangkan glaukoma sudut terbuka (GPSTa) sebesar 0,48 persen, dan glaukoma sekunder sebesar 0,16 persen.

Data WHO menyebut, glaukoma berada di peringkat ketiga penyebab kebutaan secara global, setelah kelainan refraksi dan katarak.

Secara global, glaukoma merupakan penyebab utama kebutaan yang tidak dapat disembuhkan (irreversible).

Jumlah penyandangnya diprediksi mencapai 76 juta di seluruh dunia.

Baca juga: Dalam Waktu 4 Hari Rumah Isolasi Terkonsentrasi Batusari Kota Tangerang Tampung 31 Pasien Covid-19

Nyaris tak memiliki gejala pada tahap awal, glaukoma berpotensi memberi impak yang lebih fatal: kebutaan permanen.

Peningkatan tekanan intraokular (TIO) menjadi faktor risiko utama terjadinya glaukoma.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved