Kolom Trias Kuncahyono
Antara Ankara dan Penajam
Mustafa Kemal Atatürk (1881-1938) adalah Bapak Turki Moderen, Bapak Republik Turki dan presiden pertama Turki.
Terbersit pertanyaan dalam benakku: Mengapa Mustafa Kemal memindahkan ibu kota Turki dari Istanbul ke Ankara?
Bukankah Istanbul, sebagai kota, lebih besar, lebih menarik, dan lebih strategis dibandingkan Ankara.
Di selatan Istanbul terbentang Laut Marmara, dan di utara Laut Hitam.
Bagian barat kota ada di Eropa, dan bagian timur ada di Asia.
Istanbul adalah sebuah kota yang menyatukan dua benua.
Istanbul dibelah Selat Bosphorus. Sebagai pelabuhan, kota ini merupakan kota Asia terdekat dengan Eropa dan kota Eropa terdekat dengan Asia.
Pentingnya Istanbul bertumpu pada kepentingan strategisnya dalam arti komersial.
Bukankah, Istanbul yang saat itu berpenduduk sekitar satu juta orang, memiliki makna historis—pernah menjadi ibu kota tiga kekaisaran: Romawi (330-1261) Bysantium (1261-1453), dan Ottoman (1453-1922)—ketimbang Ankara yang ada di tengah Anatolia (Asia Kecil) jauh dari laut dan dikepung pegunungan?
Tetapi, setelah PD I (1914-1918), sebagian besar wilayah Kesultanan Ottoman diduduki oleh Kekuatan Sekutu (Entente) yakni koalisi Perancis, Inggris, Rusia, Italia, Jepang, dan AS.
Mereka menghadapi Kekuatan Sentral dari Jerman, Austria-Hongaria, Ottoman, Bulgaria dan koloni-koloni mereka.
Bahkan pasukan Sekutu menduduki juga Istanbul ibu kota Ottoman.
Ketika itu, para politisi Turki, termasuk Mustafa Kemal, memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Ankara.
Setelah Sekutu mengakiri pendudukannya, pusat pemerintahan tidak dikembalikan ke Istanbul, tetapi tetap Ankara.
Mereka berpendapat, Istambul adalah ibu kota Kasultanan Ottoman. Istanbul simbol Ottoman.
Mustafa Kemal dan para pendukungnya memutuskan bahwa negara baru—Republik Turki—harus memiliki simbol baru, cara hidup baru, pandangan hidup baru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/mustafa-kemal-soe.jpg)