Edukasi
Ternyata, 38 Persen PTS di Jakarta Dipimpin Perempuan
Dalam sebuah organisasi ataupun institusi, dominasi pria sebagai pemimpin masih menjadi mendominasi beberapa wilayah di Indonesia.
TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA -- Dalam sebuah organisasi ataupun institusi, dominasi pria sebagai pemimpin masih menjadi mendominasi beberapa wilayah di Indonesia.
Baik di kota-kota besar , terlebih wilayah terpencil.
Pada kenyataannya wanita memiliki potensi yang tidak kalah berkualitas dalam hal kepemimpinan, terlepas dari individu yang berperan sebagai pemimpin itu sendiri.
Kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai seorang pemimpin mempengaruhi perilaku tim nya agar dapat bekerja sama secara produktif untuk mencapai tujuan bersama.
Baca juga: Pelaku UMKM Harus Siap dan Antusias Sambut Penonton Formula E di Ancol
Pimpinan mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan organisasi ataupun institusi.
Sementara, kehadiran perempuan dinilai memiliki kontribusi besar terhadap kesejahteraan masyarakat baik dari sektor budaya, pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Penekanan pada keterampilan dan penciptaan pekerjaan yang memanfaatkan kontribusi wanita dapat meningkatkan investasi untuk modal manusia direalisasikan sepenuhnya.
Kontribusi nyata yang dilakukan oleh perempuan dalam hal ini salah satunya direalisasikan dalam dunia pendidikan tinggi.
Baca juga: TransJakarta Batal Menyediakan Layanan Bus Khusus untuk Java Jazz Festival 2022
Hal tersebut mengemuka dalam Forum diskusi yang mengangkat tema besar “Pimpin Pemulihan, Bergerak untuk Merdeka Belajar Kampus Merdeka“ bertujuan untuk menginspirasi para pemimpin Perguruan Tinggi dan Civitas dalam tata kelola Perguruan Tinggi Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, Jumat (27/5/2022).
Dr. Ir. Sri Puji Saraswati Nizam, DIC., M.SC., IPM., selaku Ka DWP Diktiristek yang merupakan pembicara mengatakan, semakin berkembangnya jaman, gender sudah bukan merupakan faktor pembeda yang dominan.
Hal ini sejalan dengan gerakan emansipasi dan gerakan kesetaraan gender yang menuntut adanya hak wanita dalam berbagai bidang kehidupan.
Melalui kesetaraan dalam hal pendidikan dan meniti karir, perempuan juga memiliki kesempatan untuk menduduki posisi tertinggi di perusahaan, pemerintahan dan lainnya.
Baca juga: Pemkab Tangerang Gelontorkan Rp.75,5 Miliar untuk Perbaikan 42 Titik Jalan dan Saluran
Sehingga, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) secara konsisten terus melakukan transformasi pendidikan melalui terobosan Merdeka Belajar.
“Kita perlu membangun generasi emas, cedas berkarakter. Pendididkan berkarakter itu harus dijalankan sistematis dan berkelanjutan," kata Sri Puji.
Ia menjelaskan, cerdas itu harus komprehensif, mulai dari cerdas spiritual, emosional, sosial, intelektual, kinestetik, dan lingkungan.
Ada empat area penguatan pengarus utamaan gender yang harus perkuat, yakni ekosistem sekolah, pembelajaran bermakna, guru sebagai panutan, serta lingkungan keluarga dan masyarakat.
Baca juga: Harga Minyak Goreng Curah di Pasar Anyar Tangerang, Masih di Atas HET, Hingga Rp 18.000
"Tumbuhnya generasi cerdas berkarakter tidak hanya membutuhkan pendidikan formal dan non-formal dari PAUD sampai pendidikan tinggi, tetapi membutuhkan kehadiran perempuan yang cerdas, perempuan yang mandiri dengan kemauan kuat dan pengetahuan serta wawasan yang luas," jelasnya.
"Kehadiran perempuan-perempuan yang berpendidikan tinggi akan menjadi tulang punggung bagi tumbuh suburnya generasi cerdas berkarakter yang dimulai dari pendidikan keluarga di rumah," tegas Sri Puji.
Prita Kemal Gani MBA, MCIPR, APR membagi pengalamannya dalam merintis LSPR hingga sekarang.
Ia mengatakan, dalam memimpin LSPR, seperti memimpin di dalam rumah.
Baca juga: Aplikasi Pinjol Gunakan Modus Baru, Jadikan Rumah Sebagai Kantor Agar Tak Mudah Dilacak Polisi
Suasana yang dihadirkan seperti keluarga.
"Di LSPR, di tengah dinamika dan kendala, pendekatan yang kami utamakan adalah persuasif dan kekeluargaan," katanya di kesempatan yang sama.
Selain itu, ada prinsip entrepreneurialship yang diusung dalam membangun LSPR demi kemajuan LSPR.
"Dan, entreprenerialship inilah yang harus kami terus tularkan,” ujar Prita.
Baca juga: Olivia Zalianty dan Ndaru Kusumo Umumkan Kehadiran Buah Hati dengan Cara Lakukan Akikah
Lebih jauh ia menerangkan, mengusung prinsip entrepreneurialship, maka seluruh staf harus melakukan yang terbaik.
"Selanjutnya, tugas saya membuat semua staf, termasuk dosen dan mahasiswa, senang di LSPR seperti di rumah sendiri. Selain itu, persahabatan juga yang menjadikan LSPR ini kuat hingga sekarang," ucapnya.
Prita Gani menegaskan, untuk menciptakan pemimpin perempuan, maka perempuan harus kuat lebih dulu.
Mulai dari kemampuan mengurus diri sendiri, contohnya membersihkan kamar tidurnya sendiri; mengurus keluarganya; selanjutnya ditempa menjadi pemimpin.
"Umumnya, pemimpin perempuan yang berhasil adalah mereka yang berhasil di dalam rumah tangganya,” tambahnya.
Baca juga: Tahu Calon Buah Hatinya Perempuan, Ria Ricis Renovasi Rumah jadi Serba Pink
Margianti selaku Rektor Universitas Gunadarma, memaparkan sebagai pemimpin perempuan, ada berbagai prinsip pengembangan yang dikedepankan di Gunadarma.
"Pertama, kami semua tumbuh bersama (we all grow together). Kedua, saling win win, saling asah, saling asuh. Ketiga, damage control. Keempat, trouble conviyer," katanya.
Dr. ir. Paristiyanti Nurwardari, M.P., selaku Ketua LLdikti Wilayah III mengatakan, perempuan harus adaptif, inovatif, dan berdaya.
Saat ini, mahasiswa perempuan di Indonesia 56 persen.
Lalu, 38 persen pemimpin PTS di Jakarta adalah perempuan.
Baca juga: Tri Hesti Yulianti Zaki Iskandar Akui Masih Banyak Perempuan di Kab Tangerang Belum Tahu Sadari
"Saya yakin, ke depan, perempuan akan berpotensi untuk menjadi pemimpin. Yang penting, perempuan harus inovatif dan kolaboratif. Selanjutnya, be the best with your uniqueness,” tambahnya.
Pembicara lain ada Prof. Dr. Amany Lubis, MA -Rektor UIN, Prof, Sofia A. - Rektor Universitas Bakrie, dan Dr. Illah Sailah - Rektor Universitas Binawan.
Prof. Dr. Amany Lubis, MA mengatakan, kepemimpinan perempuan itu adalah keteladanan yang dihasilkan dari tempaan dirimya untuk bisa menjadi pemimpin.
Jadi, memang harus ada persiapan, seperti bekal, ilmu, karakter, dan sebagainya.
“Mulai dari mencontoh hal-hal baik, hingga mencontoh tokoh di sekitar atau keluarga kita. Dan, kepemimpinan ini harus dilakukan secara berkelanjutan, “ katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Peserta-Forum-Diskusi-Inspirasi-Kepemimpinan-Perempuan.jpg)