Selasa, 16 Juni 2026

Burung Garuda

Jadi Lambang Negara, Burung Garuda ada di Mana?

Selamatkan Elang Jawa, Taman Safari Indonesia Sosialisasikan Upaya Penyelamatan di Habitat Aslinya

Tayang:
Penulis: Hironimus Rama | Editor: Lilis Setyaningsih
istimewa/Taman Safari Indonesia
Taman Safari Indonesia menggelar kegiatan 'Sosialisasi Pendidikan Konservasi Elang Jawa' di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi pada Jumat (28/5/2022) lalu 

TRIBUNTANGERANG.COM, CISARUA -- Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita mengetahui bahwa lambang negara Indonesia adalah Garuda Pancasila. 

Garuda Pancasila itu berbentuk burung Garuda yang tiap elemen dari burung tersebut penuh arti.

Jumlah bulu melambangkan tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun tidak banyak tahu, bahwa sebenarnya Burung Garuda itu hanya mitologi, alias di dunia nyata tidak ada yang namanya Burung Garuda.

Baca juga: Tips Agar Burung bisa Tampil dan Berkicau dengan Percaya Diri dalam Suatu Lomba

Dikutip dari Intisari.gird.id, disebutkan, Garuda adalah mahluk burung dari mitologi Hindu yang berwujud manusia dengan wajah seperti burung

Dia adalah kendaraan Dewa Wisnu.

Pada era pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto  memberikan kajian dan pandangan terkait pemilihan burung yang dianggap mempresentasikan Burung Garuda.

Ketika itu, Taman Safari Indonesia bersama 11 Institusi lain diminta Presiden Soeharto agar memberikan kajian dan pandangan terkait pemilihan burung elang  sebagai representasi Burung Garuda.

Baca juga: Tujuh Burung Senilai Rp 38 Juta di Perumahan Elit Depok Diambil Kawanan Pencuri

Waktu itu disampaikan 2 spesies elang  yang dianggap mewakili, yaitu Elang Jawa dan Elang Sulawesi.

Lalu yang dipilih oleh Presiden Soeharto adalah Elang Jawa.

"Elang Jawa ini yang kita sosialisaikan. Ini adalah Burung Garuda kebanggaan kita bersama," jelas Direktur Taman Safari Indonesia Jansen Manansang, Senin (30/5/2022).

Saat ini Elang Jawa termasuk dalam daftar hewan terancam punah oleh International Union for Conservation Nature (IUCN).

Taman Safari Indonesia menggelar kegiatan 'Sosialisasi Pendidikan Konservasi Elang Jawa' di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi pada Jumat (28/5/2022) lalu
Taman Safari Indonesia menggelar kegiatan 'Sosialisasi Pendidikan Konservasi Elang Jawa' di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi pada Jumat (28/5/2022) lalu (istimewa/Taman Safari Indonesia)

Data dari Geographical memperkirakan jumlah Elang Jawa saat ini hanya sekitar 300 hingga 400 ekor yang hidup di alam liar, dengan 30 hingga 40 ekor ditangkap setiap tahunnya.

Untuk menyelamatkan satwa endemik ini, Taman Safari Indonesia menggelar kegiatan 'Sosialisasi Pendidikan Konservasi Elang Jawa' di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi pada Jumat (28/5/2022) lalu.

Program edukasi & sosialisasi diikuti oleh anak sekolah yang hadir langsung berpartisipasi dalam acara.

"Harapannya dengan memperkenalkan satwa endemik Indonesia, anak-anakbsekolah bisa ikut serta menjaga agar populasinya terlindungi dan dapat terus dilestarikan," kata  Jansen Manansang.

Baca juga: Penjualan Burung Pipit di Vihara Bahtera Bhakti Ancol Merosot Drastis saat Imlek

Kegiatan ini dihadiri oleh Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bupati Sukabumi, Plt. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Kepala Balai Besar BKSDA Jawa Barat dan Direksi PT. Smelting.

"Selain menjalankan fungsi TSI sebagai lembaga konservasi, kegiatan ini juga memiliki tujan utama yaitu konservasi berkelanjutan (Sustainable Conservation in Action)," ujarnya.

Lembaga Konservasi TSI bekerja sama dengan PT. Smelting dan didukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah melaksanakan program pengembangbiakan ex - situ Elang Jawa sejak 2018 lalu.

Saat ini Lembaga Konservasi Taman Safari Indonesia memiliki spesies pengelolaan elang jawa yang terdiri dari 14 ekor yang berasal dari 3 pasang indukan dan sukses anakan hasil pengembangbiakan 8 ekor.

Baca juga: Pedagang Burung Pipit di Vihara Boen San Bio Tangerang Raup Rp 1,6 Juta saat Imlek

"Dari anakan hasil breeding ini, sebagian sudah kami persiapkan untuk program pelepasliaran sebagai upaya mendukung pelestarian berkelanjutan spesies tersebut," papar Jansen.

Dia berharap sosialisasi pendidikan konservasi Elang Jawa ini dapat menjadi media pendidikan dan pemahaman untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian semua pihak akan pentingnya melestarikan satwa langka ini.

"Kita lestarikan Elang Jawa ini agar dapat diwariskan kepada para generasi mendatang dan berkelanjutan,” tandasnya.

Sebagai lembaga konservasi, Taman Safari Indonesia (TSI) lebih dari 30 tahun telah menjadi pelopor dalam kegiatan konservasi di Indonesia maupun internasional, baik kegiatan konservasi ek-situ maupun in-situ.

TSI telah berhasil dalam kegiatan - kegiatan konservasi spesies seperti Gajah Sumatera, Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Jalak Bali, Jalak Putih, Banteng Jawa, Anoa, Lumba-lumba dan spesies lainnya.

Sumber: Tribun depok
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
2 - 2
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved