Edukasi

Bayi Prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah Tingkatkan Risiko Stunting

Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita dipicu salah satunya adalah kurangnya kecukupan gizi anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Penulis: | Editor: Lilis Setyaningsih
UCLG Aspac
Ilustrasi stunting. Prevalensi stunting di Kabupaten/Kota di Provinsi Banten pada kisaran 14 persen hingga 38 persen. 

(2) Pemeriksaan Hb bagi rematri kelas 7 dan 10.

(3) Pemeriksaan kehamilan sesuai standar menjadi 6x.

(4) Tablet tambah darah bagi ibu hamil minimal 90 tablet selama kehamilan.

(5) Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan kurang energi kronis.

(6) ASI eksklusif.

(7) Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.

(8) Pemberian makanan tambahan bagi balita gizi kurang. (

9) Tatalaksana balita gizi buruk. (10) Imunisasi dasar lengkap bagi seluruh balita.

Bayi Prematur

Dokter Anak Konsultan Neonatologi, Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp. A(K) menjelaskan, bayi dengan kelahiran prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) masuk ke dalam bayi yang berisiko tinggi mengalami stunting.

Indonesia menempati peringkat ke–5 tertinggi angka kelahiran prematur dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

Dari 100 bayi yang lahir, terdapat 10 bayi lahir secara prematur dan 7 bayi dengan kondisi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) .

Berdasarkan penelitian di 137 negara berkembang, 35 persen kasus stunting disebabkan oleh kelahiran prematur dan 20 persen kasus stunting di Indonesia disebabkan oleh Bayi Berat Lahir Rendah.

Baca juga: Menurunkan Angka Stunting Lewat Layanan PAUD yang Holistik

Baca juga: Program Calon Pengantin Kondisi Sehat Prima Cegah Stunting di Kabupaten Tangerang

Bayi lahir prematur berisiko untuk mengalami developmental delay, gangguan kognitif, kesulitan belajar dan gangguan perilaku.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved