Jumat, 1 Mei 2026

Kasus Brigadir J

Kirdi Putra Menduga Permintaan Maaf Ferdy Sambo hanya Formalitas Meredam Emosi Masyarakat

Irjen Ferdy Sambo pertama kali muncul depan publik ketika meminta maaf atas peritiwa penembakan yang terjadi di rumah dinasnya, Kamis (4/8/2022).

Tayang:
Penulis: Desy Selviany | Editor: Intan UngalingDian
Tribun Tangerang/Miftahul Munir
Irjen Ferdy Sambo memenuhi undangan pemeriksaan penyidik Bareskrim Polri sebagai saksi atas kematian Brigadir Nofriansyah Yousa Hutabarat pada Kamis (4/8/2022) pagi. 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Irjen Ferdy Sambo pertama kali muncul depan publik ketika meminta maaf atas peritiwa penembakan yang terjadi di rumah dinasnya, Kamis (4/8/2022).

Pakar mikro ekspresi Kirdi Putra membaca ekspresi wajah atau mimik Irjen Ferdy Sambo.

Menurut Kirdi Putra, ekspresi Irjen Ferdy Sambo dari hidung ke atas yang tidak tertutup masker nyaris datar dan tanpa ekspresi.

Namun, apabila dibaca dari suara, nada yang dikeluarkan Irjen Ferdy Sambo terdengar tegang.

“Kalau digabungkan dengan suara yang kita lihat bahwa suara menandakan dia tegang," kata Kirdi Putra di Kompas TV, Kamis (4/8/2022).

Sedangkan kata-kata permintaan maaf yang dilontarkan Ferdy Sambo, Kirdi Putra curiga bahwa permintaan maaf itu sudah disusun sebelumnya.

Artinya, kata Kirdi Putra, permintaan maaf tersebut dirancang dan bukan dari hati Ferdy Sambo yang terdalam.

Baca juga: Irjen Ferdy Sambo Merasa Tertekan atas Asumsi Publik Kematian Ajudannya Brigadir Yosua

Baca juga: Irjen Ferdy Sambo Minta Maaf ke Institusi Polri dan Keluarga Brigadir Yosua Hutabarat

"Bisa jadi karena Irjen Sambo lugas, tegas, tapi di sini adalah sebuah peristiwa hilangnya nyawa seseorang dan orang ini bukan orang jauh tapi orang sangat dekat yang bisa jadi buat keluarga dianggap anak,” kata Kirdi.

Sementara, menjelang akhir kata-kata permintaan maafnya, Ferdy Sambo menambahkan kata tapi.

Menurut Kirdi Putra, yang menunjukan tidak ada penyesalan dalam peristiwa penembakan tersebut.

Dia menduga bahwa permintaan maaf tersebut hanya bentuk formalitas untuk meredam emosi masyarakat.

“Kalau begitu apa benar-benar menyesal dari kematian Brigadir J jawabannya bisa tidak,” tutur Kirdi Putra.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved