Breaking News:

Gempa

Terjadi Gempa di Jakarta pada Sabtu Dini Hari, Pusatnya 2 Km Arah Tenggara Jakpus

Akun Instagram @bmkgwilayah2 memasang pengumuman telah terjadi gempa di Jakarta, Sabtu (13/8/2022) pukul 03.00. Pusat gempa di kedalaman 250 km

Penulis: Ign Prayoga | Editor: Ign Prayoga
Instagram @bmkgwilayah2
Pengumuman di akun Instagram @bmkgwilayah2 tentang gempa bumi berpusat di 2 km sebelah tenggara Jakarta Pusat pada Sabtu (13/8/2022) dini hari. 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA -- Akun Instagram @bmkgwilayah2 memasang pengumuman telah terjadi gempa di Jakarta, Sabtu (13/8/2022) pukul 03.00.

Data Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah II yang diunggah menyebutkan gempa di Jakarta tersebut berpusat pada 2 km arah tenggara Jakarta Pusat (Jakpus) di kedalaman 250 km.

Data tersebut juga menuliskan koordinat gempa di Jakarta adalah -6.21 LS dan 106.84 BT. Di Google Maps, koordinat tersebut adalah wilayah sekitar Tebet, Jakarta Selatan.

Namun, gempa di Jakpus pada Sabtu dini hari tersebut tampaknya tak dirasakan oleh warga. Di media sosial, gempa di Jakarta tersebut juga tak menjadi topik bahasan utama.

Akun Instagram @bmkgwilayah2 juga mengunggah data peristiwa-peristiwa gempa yang waktunya berdekatan dengan gempa di Jakpus.

Di antaranya adalah gempa M 3,0 pada Jumat (12/8/2022) pukul 10.35 dan pusat gempa ada pada kedalaman 10 km dan berlokasi 90 km arah tengara Pesisir Barat, Lampung.

Gempa M 3,4 terjadi di hari yang sama pada pukul 19.13 dan pusat gempa ada pada kedalaman 6 km di 128 km arah barat daya Pesisir Barat, Lampung.

Sekitar 15 menit kemudian, terjadi gempa M 3,4 di lokasi yang berdekatan dan di kedalaman 11 km

Di malam yang sama, pukul 21.20, terjadi gempa M 3,0 di kedalaman 1 km dan pusat gempa sekitar 91 km arah tenggara Enggano, Bengkulu.

Di sisa malam, pada Jumat (12/8/2022), juga terjadi gempa M 3,5 di kedalaman 12 km pada 93 km barat daya Bayah, Banten.

Setelah serentetan pengumuman gempa yang berpusat di laut selatan tersebut, muncul pengumuman gempa di Jakarta pada Sabtu (13/8/2022) pukul 03.00.

Selama ini, Jakarta termasuk wilayah yang jarang diguncang gempa.

Namun penelitian terbaru menemukan potensi gempa besar di selatan Jakarta, yang dipicu sesar--patahan arah rekahan akibat pergeseran lempeng Bumi, bernama Sesar Baribis yang berada di bagian barat laut Pulau Jawa.

Hal itu diungkapkan dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports Nature pada 16 Juni 2022, berjudul "Implications for fault locking south of Jakarta from an investigation of seismic activity along the Baribis fault, northwestern Java, Indonesia", ditulis oleh Widiyantoro bersama tim.

Menurut penelitian tersebut, penyebaran seismik lubang bor yang dilakukan di sepanjang Sesar Baribis di barat laut Jawa mengungkapkan sesar ini kemungkinan besar aktif. "Pengamatan ini menyiratkan, bahwa Sesar Baribis barat terkunci, dan daerah sekitarnya, termasuk Jakarta Selatan dan sekitarnya, mungkin sangat rentan terhadap gempa bumi yang cukup besar di masa depan saat akumulasi energi regangan elastis akhirnya dilepaskan selama patahan," tulis para peneliti.

Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono pun turut mengonfirmasi temuan ini.

Daryono menyatakan, struktur Sesar Baribis segmen di selatan Jakarta terbukti aktif dengan estimasi laju geser mencapai sekitar 5 milimeter per tahun. "Selain itu keaktifan sesar ini didukung hasil monitoring peralatan sensor seismograf BMKG di mana terdapat aktivitas gempa yang terpantau di jalur sesar, meskipun dalam magnitudo kecil 2,3 sampai 3,1," ujar Daryono kepada Kompas.com, Minggu (26/6/2022).

Lebih lanjut, dia menyampaikan hasil kajian itu sangat valid lantaran didukung dengan data gempa hasil monitoring BMKG, serta data primer hasil observasi lapangan oleh tim peneliti menggunakan peralatan mutakhir, dengan metode yang sahih. "Tentu BMKG sangat mengapresiasi hasil kajian ini, karena memberi sumbangan penting untuk melengkapi peta sumber dan bahaya gempa bumi di Indonesia," kata Daryono.

"Terpenting lagi temuan itu dapat menjadi rujukan mitigasi gempa bumi di sepanjang jalur sesar Baribis dan sekitarnya seperti kota besar Bekasi, Bogor dan Jakarta," imbuhnya.

Daryono juga mengatakan, struktur Sesar Baribis diperkirakan memiliki panjang sekitar 100 km. Akan tetapi, jalur sesar ini tampaknya tidak menerus sebagai satu kesatuan sesar, melainkan bersegmen-segmen yang masing-masing memiliki panjang bervariasi.

Sehingga, kata dia, masih perlu ada kajian lebih lanjut untuk mendetailkan lagi segmen-segmen sesar itu. Dirinya juga membenarkan, jalur sesar ini melintas di selatan Jakarta sebagai segmen Jakarta, di samping segmen yang berada di sebelah timur yang dapat disebut segmen Bekasi-Purwakarta.

Dengan keberadaan jalur sesar aktif ini, selatan Jakarta termasuk rentan mengalami gempa bumi. "Jika mencermati data gempa hasil monitoring BMKG tampak segmen selatan Jakarta ini memang belum menunjukkan aktivitas gempa, tetapi hasil kajian menunjukkan adanya tingkat kompresi yang tinggi, yang diduga terkait dengan area yang terkunci. Ini yang patut diwaspadai," jelasnya.

Berdasarkan hasil kajian, Daryono menyatakan, jalur Sesar Baribis memiliki potensi gempa yang cukup signifikan. BMKG mencatat aktivitas gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake), akibat sesar aktif berkekuatan kecil pun dapat memicu kerusakan.

"Kita punya banyak bukti catatan gempa kecil bahkan dengan magnitudo 4,5 mampu menimbulkan kerusakan karena hiposenternya dangkal dengan episenternya dekat dengan permukaan. Jika ternyata gempa yang terjadi memiliki kekuatan lebih besar tentu potensi kerusakannya pun akan semakin besar," imbuhnya.

Berkaitan dengan mitigasi gempa, Daryono mengatakan harus ada upaya yang nyata atau konkret di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Karawang, Purwakarta dan sekitarnya, dengan mewujudkan bangunan tahan gempa dengan struktur yang kuat. Lalu, perencanaan tata ruang berbasis risiko gempa, yang mengacu pada peta mikrozonasi bahaya gempa dalam skala detail.

Semua masyarakat juga dinilai perlu memahami keterampilan cara menyelamatkan diri, saat terjadi gempa bumi. "Perlu ada edukasi masif dan latihan evakuasi yang berkelanjutan, tidak saja untuk antisipasi gempa akibat Sesar Baribis, tapi juga untuk antisipasi potensi gempa megathrust yang sumbernya jauh dan dapat berdampak hingga Jakarta," katanya.

Endra Gunawan, peneliti geofisika yang juga dosen di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, mengatakan, masyarakat perlu diedukasi sehingga bisa memitigasi ancaman gempa tersebut.

”Ini memang agak sensitif karena berkaitan dengan daerah yang padat penduduk. Tetapi, harus disampaikan apa adanya bahwa dari sisi sains, zona tektonik di selatan Jakarta memang aktif,” kata Endra dikutip dari Tribunnews.com.

Endra yang terlibat dalam serangkaian studi kegempaan di Jawa, khususnya sekitar Jakarta ini, menjelaskan, kerentanan bencana di Jakarta dan sekitarnya ini perlu dikomunikasikan ke masyarakat.

Sehingga dengan mengetahui potensi ancaman bencana tersebut bisa harus mulai dipersiapkan mitigasinya.

"Selain tata ruang dan tata bangunan, juga edukasi dan pelatihan menghadapi gempa perlu disiapkan secara rutin," kata dia. (*)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved