Kenaikan Harga BBM

Survei: Dampak Kenaikan Tarif Ojol Konsumen Beralih Naik Sepeda Motor Sendiri

Survei Ungkap Dua Sisi Dampak Kenaikan Tarif Ojol: Konsumen Beralih ke Kendaraan Pribadi dan Supir Ojol Kehilangan Pekerjaan

Penulis: | Editor: Lilis Setyaningsih
Tribun Tangerang/Gilbert Sem Sandro
Pengendara ojek online, Rian, mengeluhkan kenaikan harga BBM, Minggu (4/9/2022). 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA -- Transportasi daring, khususnya sepeda motor, atau yang populer dengan sebutan “ojek online” alias “ojol” telah menjadi pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan transportasi.

Solusi kepraktisan dan hitung-hitungan ongkos membuat ojol dipilih sebagai moda transportasi yang paling sering dipilih setelah kendaraan pribadi.

Hal ini terungkap dalam hasil survei Polling Institute yang menemukan bahwa 28,4 persen penumpang memilih menggunakan ojol untuk kebutuhan sehari-hari.

Ojol ini ada diperingkat kedua setelah kendaraan pribadi yang angkanya 41,4 persen.

Dalam paparan hasil survei “Kenaikan Tarif Ojek Online di Mata Pengguna dan Pengemudi” pada Minggu (11/09/2022), Direktur Eksekutif Polling Institute Kennedy Muslim mengatakan bahwa sebagian besar konsumen akan berpindah ke kendaraan pribadi dalam merespons kenaikan tarif ojol yang mencapai rata-rata 45 persen.

“Ini bisa mengindikasikan ketergantungan masyarakat urban terhadap ojek online 61,2 persen responden tidak setuju dengan kenaikan tarif ojol. Sebagai responsnya, ada 26,6 persen yang akan menggunakan sepeda motor sendiri,” papar Kennedy.

Menurut pengamat tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna, respons tersebut merupakan pilihan rasional karena perhitungan ekonomi.

Biaya yang dikeluarkan untuk membeli bensin lebih murah dibanding membayar tarif ojol untuk kebutuhan dalam satu hari.

Baca juga: Mulai  hari ini, Selasa (13/9/2022) Bus Transjakarta Layani 24 jam di 13 Karidor

Baca juga: Polrestro Tangerang Kota Beri Bantuan Sembako Bagi Supir Angkot, Ojol, dan Tukang Becak

Ia menilai pilihan masyarakat untuk menggunakan sepeda motor juga tidak bisa disalahkan.

"Mereka yang penghasilannya terbatas, kurang dari Rp4 juta, itulah yang paling rentan dengan kenaikan tarif transportasi. Jadi, konsumen pindah ke sepeda motor tidak boleh disalahkan. Dengan minimnya pendapatan dan semakin mahalnya biaya hidup, maka agak sulit menyalahkan masyarakat ketika memilih harus menggunakan sepeda motor," kata Yayat pada diskusi daring tersebut seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima, Selasa (13/9/2022)

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved