Sejarah Jakarta
Sejarah Jakarta: Mengenal Trem yang Jejaknya Ditemukan pada Pembangunan MRT Fase 2
Sejarah Jakarta: Mengenal Trem yang ada Sejak Hindia Belanda, Jejaknya Ditemukan pembangunan MRT fase 2
Penulis: Desy Selviany | Editor: Lilis Setyaningsih
TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA -- Belakangan pembangunan MRT fase 2 kembali digegerkan dengan penemuan jalur trem bekas era Hindia Belanda. Transportasi trem memang sangat erat dengan sejarah Jakarta.
Selama di era Hindia Belanda, Sejarah Trem silih berganti dari masa ke masa.
Transportasi trem dibangun oleh Hindia Belanda yang saat itu menguasai Batavia lantaran terdorong dengan industrialisasi yang semakin menggeliat di Hindia Belanda.
Berkembangnya industri terutama perkebunan membuat pemodal swasta mendesak pemerintah Hindia Belanda untuk merealisasikan pembangunan jalur kereta api untuk mengangkut hasil perkebunan.
Tahun 1862, pemerintah Hindia Belanda merealisasikannya yang ditandai pembukaan jalur kereta api pertama di Pulau Jawa yaitu Jalur Semarang-Vorstenlanden yang dikelola oleh NISM.
Dikutip dari jurnal Universitas Negeri Yogyakarta, pembangunan jalur kereta api merupakan tahapan penting bagi perkembangan transportasi di Hindia Belanda.
Pasalnya pembukaan jalur kereta api pertama kali yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda menyebabkan transportasi berkembang pesat.
Batavia yang pada waktu itu dijadikan pusat perekonomian dan perdagangan kemudian memerlukan alat transportasi yang efektif, efisien, cepat, dan murah.
Merespon hal tersebut pemerintah Hindia membangun transportasi trem.
Pada sejarah trem di Jakarta, Belanda membangun jaringan trem yang merupakan alat transportasi kota jarak dekat dengan harapan lebih efektif dan efisien untuk mengangkut penumpang.
Trem merupakan kendaraan rel untuk angkutan perkotaan yang terdiri dari satu kereta atau lebih yang memiliki jalur trem yang berbaur dengan jalan raya.
Trem digunakan ketika perjalanan lebih dekat dan hanya untuk mengangkut penumpang
Baca juga: Sejarah Jakarta: Jalan M.H Thamrin Sebelum Tahun 1950 Bernama Gang Timboel, Panjangnya Hanya 300 M
Pada tahun 1869 dibuka jalur trem kuda yang dikelola oleh Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM) dan bergerak dari Oud Batavia sampai Weltevreden.
Pada tahun 1881 muncul trem uap yang dikelola oleh Nederland Indische Tramweg Maatschappij (NITM) dengan rute yang Oud Batavia-Meester Cornelis.
Pada tahun 1897 trem uap bersaing dengan trem listrik di bawah perusahaan Batavia Elektrische Tramweg Maatschappij (BETM) dengan rute berbeda dan menambah jalur trem yang ada di Batavia.
Pada tahun 1930, perusahaan trem uap dan trem listrik kemudian bergabung dan menjadi Batavia Verkeer Maatschappij (BVM).
Selain dibangun jalur kereta yang menghubungkan kota di luar Batavia, Pemerintah Hindia Belanda juga membangun jalur trem dalam kota yang memungkinkan orang untuk melakukan perjalanan jauh dengan waktu efisien
Setidaknya ada tiga generasi trem di Batavia. Keempat generasi trem tersebut yakni Trem Kuda, Trem Uap, dan Trem Listrik.
1. Trem Kuda Batavia
Pada tahun 1869, hadir trem kuda yang merupakan angkutan umum berupa kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda atau lebih yang berjalan di atas rel dengan lebar 1.118 milimeter yang mampu mengangkut 40 orang atau lebih.
Pembangunan jaringan Trem Kuda Batavia direncakan tahun 1860 yang dicetuskan oleh J.Babus du Mares yang mendapatkan ide dari trem kuda di Amerika Serikat.
Ia berpendapat bahwa kuda jawa merupakan hewan pejalan kaki yang baik dan dimanfaatkan sebagai alat transportasi yang efisien bisa menarik 2-3 gerbong dengan membawa 30-40 orang dengan kecepatan cukup
Trem Kuda Batavia dikelola oleh BTM dengan rute dari Pasar Ikan-Harmoni-Meester Cornelis.
Daerah Kramat tepatnya di Gang Sekola, dibangun depo trem yang dikhususkan untuk menyimpan kuda-kuda yang akan menarik trem kuda.
Di Depo Kramat, kuda tersebut diberi kandang-kandang dan diberikan pangan seperti jerami agar kuda tersebut tetap dalam kondisi baik.
Baca juga: Sejarah Jakarta, TMII Diresmikan 20 April 1975, Awalnya Diusulkan Dibangun dekat Hotel Indonesia
Kereta yang digunakan oleh BTM yaitu berasal dari pabrikan Bonneford di Perancis yang nantinya akan digunakan oleh BTM untuk membawa penumpang dan gerbong tersebut akan disimpan di Depo Kramat bersamaan dengan kudanya.
Tarif trem kuda ini cukup murah yaitu hanya 10 sen dan melintas setiap lima menit dari pukul lima pagi hingga pukul delapan malam.
Uniknya dalam trem kuda tidak dilakukan pemisahan kelas, tetapi tarif yang diterapkan berbeda untuk bangsa Eropa dan pribumi.
Walaupun tidak dilakukan pemisahan kelas, hal ini membuat berbaurnya berbagai macam etnis dalam trem kuda.
Sebelumnya, trem kuda memiliki dua kelas yaitu kelas satu untuk golongan orang Eropa dan kelas dua untuk kelas pribumi, tetapi karena kuda yang tidak kuat menarik dua gerbong, maka kelas satu pun dihapus pada bulan Agustus 1869 dan trem kuda menggunakan satu kelas saja yaitu kelas dua
2. Trem Uap Batavia
Trem uap mulai beroperasi di Batavia pada tanggal 18 September 1881.
Trem uap dikelola oleh NITM untuk mengantikan trem kuda yang pengoperasiannya telah dihapus.
Jalur rel NITM terletak di jalur kanan jalan serta memiliki lebar 1.118 milimeter dan memiliki rel kembar agar dua trem dari dua arah tidak saling menunggu yang bisa menyebabkan kemacetan.
NITM memiliki kantor pusat dan depo di daerah Kramat tepatnya di sisi timur Jalan Kramat yang digunakan untuk menyimpan, merawat, dan mengisi bahan bakar trem uap.
Adapun jalur trem uap yakni Batavia-Harmoni, Harmoni-Kramat, Kramat-Meester Cornelis, dan Meester Cornelis-Kampung Melayu.
Lokomotif trem uap yang dibeli dengan harga f 8.800 dari pabrikan 82 Hohenzollern di Jerman dan berjenis “Fireless Locomotive” atau lokomotif tanpa api yang memanaskan ketel uap (Widoyoko, 2007: 11).
Trem uap melakukan pembagian kelas yaitu kelas satu terletak di bagian depan untuk penumpang Eropa yang memiliki kualitas lebih baik dengan tarif 25 sen.
Lalu kelas dua terletak ditengah bertarif 20 sen khusus penumpang keturunan Timur Asing dan Arab, dan kelas tiga terletak di bagian akhir untuk masyarakat pribumi bertarif 15 sen.
Selain itu, trem uap juga menyediakan gerbong di bagian akhir yang disebut Pikolanwagen yang dioperasikan untuk angkutan barang pasar atau hewan ternak bagi pedagang.
Baca juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Ancol yang Sudah Diincar jadi Tempat Wisata Sejak Abad ke 17
Lebih rinci terdapat berbagai ketentuan ketika menaiki trem uap NITM, yaitu:
1. Anak-anak dibawah usia dibawah 3 tahun tidak perlu membayar tiket
2. Penduduk Eropa duduk di bagian depan,sedangkan penduduk Timur Asing dan Pribumi di bagian belakang
3. Barang-barang berukuran kecil bisa dibawa ke dalam gerbong dan tidak dipungut biaya, sedangkan jika terdapat benda yang ukurannya besar tidak diperbolehkan di dalam gerbong
4. Anjing atau hewan lain bisa dimasukkan ke dalam gerbong jika hewan tersebut tidak menganggu penumpang lain
5. Pembayaran dilakukan secara tunai dan kondektur wajib memberikan tiket kepada penumpang yang telah membayar, setelah turun dari trem, tiket tersebut dikembalikan kepada kondektur untuk dihancurkan
6. Penumpang tidak diperkenankan naik atau turun tidak pada tempatnya dan perusahaan NITM tidak bertanggung jawab ketika terjadi kerusakan atau kecelakaan
Pada perkembangannya, trem uap memiliki masalah yang dinilai terlalu bising sehingga menganggu ketenangan masyarakat kota.
Trem uap juga sering terlibat dalam kecelakaan antara pejalan kaki atau pengendara kendaraan bermotor, dan ketika musim hujan trem uap sering mogok karena cerobong asap yang terendam air serta trem uap yang mendingin.
Dari sejumlah kelemahan trem uap, munculah trem listrik.
3. Trem Listrik Batavia
Trem listrik (De Elektrische Tram) merupakan transportasi umum praktis dan bebas polusi menggunakan tenaga listrik yang terkenal di wilayah Eropa
Gagasan mengenai trem listrik di Batavia telah diusulkan sejak tahun 1886 yang dicetuskan oleh Van Zwieten (ahli listrik dari Belanda yang tinggal lama di Batavia).
Dia yakin dengan kehadiran trem listrik akan menjadikan transportasi yang efisien.
Pada tanggal 10 April 1899, trem listrik diresmikan dengan rute Kebun Binatang-Harmoni yang dikelola oleh BETM.
Peresmian trem listrik disambut gembira oleh masyarakat Batavia walaupun terdapat insiden adanya sabotase yang dilakukan oleh kusir sado dengan meletakkan batu besar di tengah rel sebagai tanda kekecewaan mereka karena adanya pesaing transportasi
BETM memiliki depo yang digunakan untuk menyimpan dan merawat trem listriknya yang terletak di daerah Cikini tepatnya di Jalan Kali Pasir.
Trem listrik yang digunakan yaitu berasal dari pabrikan bernama Dyle en Becalan yang berasal dari Belgia yang dibuat tahun 1899 dan pada tahun 1912 dibuat oleh pabrikan Belanda Beijnes yang menggunakan jenis trem EMR C dan ABC yang menggunakan sistem listrik trolley.
Adapun rute trem listrik yang melintas di Batavia yakni Harmoni-Kebon Binatang Cikini, Kebon Binatang Cikini-Sipajersweg, Sipajersweg–Amsterdamse Poort 5, Kali Besar Wetan-Jakarta Poost 1, Menteng-Gambir-Harmoni 3, dan Gambir-Vrijmetselaarsweg 2.
Pasokan listrik yang digunakan untuk menggerakkan trem listrik berasal dari perusahaan listrik Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) yang pembangkitnya berada di daerah Meester Cornelis.
Baca juga: Sejarah Jakarta, Sarinah, Mal Pertama dan yang Punya Eskalator di Indonesia
Pembangkit listrik yang ada di Batavia menggunakan air sebagai penggerak generator listrik, karena air di Batavia cukup melimpah.
Trem listrik juga menerapkan pemisahan kelas yaitu kelas satu untuk orang Belanda dengan tarif sebesar 15 sen, kelas dua untuk orang timur asing dengan tarif 10 sen, dan kelas tiga untuk orang pribumi dengan tarif 5 sen.
Trem listrik pernah mengalami masalah banjir tahun 1918.
Banjir tersebut membuat trem listrik tidak bisa beroperasi karena rel terendam air, yang membuat mogok dan rusak akibat
banjir besar.
Bahkan ketika musim hujan, sering terjadi masalah pada pembangkit listrik akibat konsleting yang terjadi dan membuat trem listrik menjadi tidak bisa digerakkan.