Selasa, 28 April 2026

Jadi Minoritas di Sekolah, Siswi Kelas 2 SD Karawang Dipaksa Pakai Jilbab dan Di-bully

Aksi intoleransi terjadi di sebuah SD negeri di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sekolah tersebut dinilai berisi guru-guru radikal.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Ign Prayoga
Istimewa
Ilustrasi siswi SD korban bullying dan kampanye stop bullying 

TRIBUNTANGERANG.COM, KARAWANG - Aksi intoleransi terjadi di sebuah SD negeri di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Seorang siswi kelas dua SD yang jadi minoritas di sekolahnya, dipaksa mengenakan jilbab.

Siswi tersebut juga di-bully oleh kepala sekolah dan para guru. Bahkan dia mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh rekan-rekannya.

Sikap intoleransi karena beda keyakinan ini diungkap akademisi dan pegiat media sosial Ade Armando lewat akun Twitter @adearmando61.

Menurut dia, intoleransi tersebut tersebut terjadi di SDN Jomin Barat II, Cikampek, Kabupaten Karawang.

Korban adalah siswi kelas dua berinisial B. Dia dipaksa memakai jilbab oleh pihak sekolah. Sementara pada keyakinan yang dianut keluarga B, tidak ada keharusan memakai jilbab.

Setelah mengenakan pakaian seperti mayoritas siswi di sekolah, B tetap dibully bahkan dipukul oleh teman-temannya hingga hidungnya berdarah.

Kasus perundungan karena perbedaan agama dan kepercayaan, yang terjadi pada siswi kelas 2 SDN di Jomin Barat ini diungkapkan oleh akademisi dan pegiat media sosial Ade Armando di akun Twitternya @adearmando61.

"Saya ingin berbagi cerita yang saya rasa akan membuat kita semua sedih. Ini berlangsung di sebuah sekolah dasar negeri. SDN II Jomin di Cikampek, Jawa Barat. Di sekolah itu ada seorang anak yang dibully. Anak itu bernama B," kata Ade.

Menurutnya, B adalah seorang anak yang datang dari keluarga penganut penghayat kepercayaan terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa.

"B ini masih kelas 2 SD dan karena keyakinannya itu, karena kepercayaannya itu, dia dibully di sekolahnya. Yang mem-bully dia itu mulai dari murid, dan juga guru bahkan kepala sekolah," tambah Ade.

"Dia itu dipaksa oleh kepala sekolahnya untuk mengenakan jilbab dan dia sudah mengenakan jilbab. Tapi tetap juga dibully karena kepercayaannya. Dia dicap kafir, diledek, dicaci maki, bahkan dipukul," ujar Ade,

Suatu kali, kata Ade, B dipukul oleh rekan-rekannya sehingga pulang ke rumah dengan keadaan hidung berdarah.

"Orang tuanya tentu saja tidak terima. Orangtuanya datang ke sekolah memprotes. Dan guru dan kepala sekolah, sekedar bilang bahwa ah itu biasa kelakuan anak-anak," kata Ade.

Orang tua B, tambah Ade akhirnya mengadu ke dinas pendidikan setempat.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved