Hadiri Sidang IMO, Badan Karantina Indonesia Serukan Pencegahan Penyakit Hewan, Ikan, dan Tumbuhan
Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat M Panggabean menegaskan Indonesia mengambil peran aktif dalam memproteksi lingkungan maritim
Penulis: Gilbert Sem Sandro | Editor: Ign Prayoga
TRIBUNTANGERANG.COM - Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat M Panggabean menghadiri sidang Komite Perlindungan Lingkungan Maritim ke-81.
Dalam pertemuan yang digelar di kantor pusat Organisasi Maritim Internasional (IMO) di London, Inggris itu, Sahat hadir sebagai delegasi Republik Indonesia bersama pejabat terkait di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, PT Biro Klasifikasi Indonesia, dan PT Pertamina Shipping.
Sahat mengatakan, pihaknya memiliki kewenangan dalam tindakan pengawasan dan pencegahan penyakit hewan, ikan, serta tumbuhan lintas negara dan spesies asing invasif yang dapat timbul akibat pencemaran lingkungan maritim.
"Indonesia mengambil peran aktif dalam memproteksi lingkungan maritim karena kami tidak ingin ada celah masuknya hama penyakit hewan, ikan maupun tumbuhan ke wilayah NKRI melalui jalur maritim," ujar Sahat dalam keterangannya, Sabtu (23/3/2024).
Sahat juga menjelaskan, dalam kunjungan itu pihaknya secara khusus mengikuti agenda pembahasan revisi sistem air balas.
Air balas adalah air tawar yang digunakan untuk menyeimbangkan kapal ketika sedang tidak membawa muatan sesuai dengan kapasitas maksimal kapal.
Hal tersebut dinilai penting untuk dilakukan sebagai penyeimbang ketika kapal berlayar di laut lepas dan menghadapi cuaca buruk.
"Namun demikian kondisi ini berpotensi membawa masalah terhadap pencemaran lingkungan maritim, khususnya saat pembuangan air balas kapal yang tidak diolah dan dibuang di sembarangan," kata dia.
"Tentunya ini berpotensi menyebabkan perpindahan beberapa organisme laut yang tidak sesuai dengan lingkungan hidup awalnya, sebab organisme ini dapat berkembang menjadi spesies asing," imbuhnya.
Oleh karena itu, isu kualitas air, perubahan dan rencana manajemen air balas dan analisa, serta uji coba air balas menjadi agenda utama yang dibahas Badan Karantina Indonesia.
"Kita bersama-sama berusaha sistem rantai makanan dan keseimbangan ekosistem di perairan tidak terganggu," ungkapnya.
Selain itu Badan Karantina Indonesia juga mengikuti pertemuan bilateral dengan Denmark untuk membahas pelatihan kering dok kapal yang berhubungan dengan cara membersihkan kapal dari kotoran biologi, seperti mikroba dan invasive alien species serta teknik anti pengotoran kapal dengan menggunakan bahan kimia tertentu yang telah di setujui oleh IMO.
Menurut Sahat, pokok bahasan dalam kunjungannya ke luar negeri tersebut akan segera dibahas agar dapat dituangkan dalam kebijakan pemerintah.
"Saya berharap dengan semakin luasnya pengetahuan tentang proteksi lingkungan maritim, khususnya air balas ini dapat meningkatkan kesadaran dalam mencegah masuknya penyakit hewan, ikan dan tumbuhan lintas negara, serta invasive alien species," kata Sahat Panggabean. (m28)
| Badan Karantina Indonesia Cegah Penyeludupan Kadal dan Monyet Bernilai Ratusan Juta dari Thailand |
|
|---|
| Jelang Nataru, Badan Karantina Indonesia Perketat Pengawasan Hewan dan Pangan di Bandara Soetta |
|
|---|
| Kementerian Perhubungan Membuka Seleksi Penerimaan Calon Taruna/Taruni Mulai Hari Ini, Cek Syaratnya |
|
|---|
| 17,2 Ton Limpa Sapi dari Australia Dimusnahkan Badan Karantina Indonesia, Ini Alasannya |
|
|---|
| Demo Ojol 20 Mei 2025: Lalin Berpotensi Padat, Polisi Imbau Pengendara Hindari Tiga Titik Ini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Kepala-Badan-Karantina-Indonesia-Sahat-M-Panggabean.jpg)