Pria Murah Senyum dan Lemah Lembut Itu Kini Telah Tiada
Badannya terkoyak, sekaligus mengoyak ikhtiar anak-anak manusia untuk memuliakan nyawa ciptaan Ilahi. Kekerasan yang amat keji itu sekaligus merajam r
Ia menyampaikan bahwa Ismail Haniyeh ingin bertemu lagi Jusuf Kalla dan saya pada dua atau tiga minggu ke depan. Ia ingin membicarakan implementasi kesepakatan yang dibuat di China sepekan sebelumnya.
Saya langsung menyetujuinya. Pertemuan tersebut tentu saja secara otomatis batal karena Ismail Haniyeh berangkat menghadap Sang Pencipta.
Semula, sebelum bertemu langsung, pandangan saya tentang Ismail Haniyeh adalah figur yang meledak-ledak, senang mengacungkan jari, suara keras dan lantang serta mengumbar diksi patriotik yang bisa menyalakan sumbu perlawanan. Saya keliru ternyata.
Terkaan saya meleset total. Ia amat lembut dalam bertutur. Volume suara tak meninggi, kendati substansi pembicaraan menyangkut masalah motif mengapa Hamas angkat senjata. Sesengit apa pun yang dibicarakan, ia tidak meledak-ledak. Emosinya tetap stabil.
Wajahnya tidak mengerut. Selalu menyunggingkan senyum. Ia humoris. Haniyeh sebenarnya sedang memandu organisasinya agar berkompromi mencari titik temu supaya kekerasan berhenti. Ia tidak tega lagi melihat anak-anak Palestina jadi korban kekerasan.
Ia bukan Yahya Sinwar, pemimpin tempur di lapangan, yang tidak mau menempuh jalur perundingan dengan Israel.
Siapa pembunuhnya?
Kecambah dugaan tentang siapa pelaku dan pengatur pembunuhan Ismail Haniyeh hingga kini masih marak di sana sini.
Namun, melihat metode pembunuhan yang memiliki unsur kesenyapan dan presisi tinggi mengenai sasaran, maka amat mudah disimpulkan bahwa pembunuhan tersebut menggunakan teknologi super canggih. Ismail Haniyeh diserang dari atas atap rumahnya tanpa kegaduhan.
Tak mengusik dan menimbulkan kegaduhan ke tetangga. Lalu, persangkaan pun mulai mengalamatkan serangan dan pembunuhan Ismail Haniyeh dilakukan oleh Israel.
Masalahnya, negara ini memiliki jejak panjang tentang penggunaan senjata canggih dan metode serangan senyap. Operasi intelijen Israel dengan para agen Mossad-nya yang piawai, membuat Israel terasa pelik lolos dari persangkaan tersebut.
Lagi pula, kini Israel memang sedang sengit-sengitnya bertempur melawan pasukan Hamas di Gaza. Sebagai pemimpin politik, Ismail Haniyeh menjelajah ke pelbagai sudut dunia, yang membuat para agen Mossad gampang menguntitnya. Seketat apa pun pengawasan dan pengamanan atas dirinya, ia tak pernah aman dari bidikan Israel.
Ia tidak berkubang dalam satu titik, yang pelik terlacak, sebagaimana yang dilakukan oleh Yahya Sinwar. Tinggal di Gaza, dalam terowongan-terowongan misterius.
Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah akan menyurutkah perlawanan Hamas dengan kepergian Ismail Haniyeh? Sama sekali tidak. Kita semua dapat pelajaran berharga dari masa silam. Sheikh Yassin, tokoh utama dan pendiri gerakan perlawanan Hamas terbunuh oleh serangan Israel beberapa tahun silam. Kepergiannya ternyata tidak menyurutkan semangat perlawanan Hamas terhadap Israel.
Generasi satu pergi, generasi baru datang. Siklus ini datang secara bergantian dan sistematis. Tak ada sudut henti sebelum tanah-tanah Palestina yang dijarah Israel dikembalikan. Tak ada kata jeda dalam melawan sebelum Palestina menjadi negara berdaulat penuh. Ini prinsip Hamas.
| Respons Pengadilan Negeri Jaksel Soal Silfester Matutina Belum Dieksekusi Setelah Divonis Bersalah |
|
|---|
| 2 Dugaan Alasan Dibalik Silfester Matutina Tak Menyerahkan Diri di Kasus Fitnah JK |
|
|---|
| Hamid Awaluddin Ungkap 2 Kemungkinan Besar Silfester Matutina Belum Ditahan di Kasus Fitnah JK |
|
|---|
| 2 Saran Hamid Awaluddin untuk Presiden Prabowo Ditengah Polemik Ijazah Jokowi |
|
|---|
| Hamid Awaluddin Ungkap Sosok yang Bisa Akhiri Polemik Ijazah Jokowi: Bukan Roy Suryo atau Silfester |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Ismail-Haniyeh4.jpg)