Hamas Sebut Pemimpin yang Baru Kemungkinan Bermarkas di Luar Gaza

Ismael Haniyeh sebelumnya juga tewas dibunuh Israel saat sedang tidur di penginapan khusus milik Iran.

Editor: Joseph Wesly
(AFP/KARIM JAAFAR)
Kepala Biro Politik Hamas di pengasingan, Khaled Meshaal (kiri), berbicara dalam sebuah konferensi di ibu kota Qatar, Doha, 1 Mei 2017. 

TRIBUN TANGERANG.COM, GAZA- Pemimpin Hamas Yahya Sinwar meninggal dunia setelah tewas ditembak Israel. Yahwa tewas setelah setahun menggantikan posisi pemimpin Hamas sebelumnya, Ismael Haniyeh.

Ismael Haniyeh sebelumnya juga tewas dibunuh Israel saat sedang tidur di penginapan khusus milik Iran.

Kamar Ismael Haniyeh meledak setelah bom yang disebut sudah disembunyikan di ruangannya meledak.

Bom disebut meledak karena diaktifkan dari jarak jauh.

Merespons tewasnya dua pemimpin Hamas, Kelompok Hamas Palestina menyatakan bahwa kemungkinan pengganti Yahya Sinwar ialah pemimpin politik baru yang bermarkas di luar Gaza. 

Sementara Mohammad Sinwar diperkirakan bakal mengambil peran yang lebih besar dalam mengarahkan perang melawan Israel di wilayah Gaza.

Baca juga: Yahya Sinwar Sempat Melawan sebelum Ditembak di Bagian Kepala, Lempar Tongkat ke Drone Israel

Diketahui, Hamas harus mempertimbangkan tidak hanya preferensi pendukung utamanya Iran, tetapi juga kepentingan negara Teluk Arab Qatar. 

Yakni tempat semua kandidat utama untuk mengambil alih jabatan kepala biro politik saat ini berada.

Sebelumnya pada Rabu (16/10/2024), Pemimpin Hamas Yahya Sinwar tewas dalam baku tembak dengan tentara Israel.

Dalam waktu kurang dari tiga bulan, Hamas telah kehilangan pemimpin utamanya.

Sebelumnya Ismail Haniyeh, dibunuh di Iran pada Juli yang kemungkinan besar dilakukan oleh Israel.

 Saat Sinwar menggantikannya, ia menggabungkan kepemimpinan militer dan politik dari Gaza, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan saat ini.

Sebagaimana diberitakan Reuters pada Sabtu (19/10/2024), usai lebih dari setahun serangan Israel yang telah menghantam Hamas, ribuan anggota telah tewas.

Bahkan tokoh-tokoh senior baik di dalam maupun di luar Gaza juga turut tewas akibat bertembur dengan tentara Israel.

Wakil Sinwar, Khalil Al-Hayya, yang dipandang sebagai calon pengganti, menyampaikan pernyataan menantang pada Jumat.

Ia mengatakan bahwa sandera Israel tidak akan dikembalikan sampai pasukan Israel mundur dari Gaza dan perang berakhir.

Hamas sendiri memiliki sejarah mengganti pemimpinnya yang tumbang dengan cepat dan efisien, dengan badan pembuat keputusan utamanya, Dewan Syura bertugas menunjuk pemimpin baru.

Dewan Syura mewakili semua anggota Hamas di Jalur Gaza, Tepi Barat, penjara-penjara Israel dan diaspora Palestina, yang berarti pemimpin baru harus memiliki wewenang untuk memasuki pembicaraan gencatan senjata.

Bahkan jika dia tidak berada di Gaza, tempat orang-orang bersenjata Hamas masih menyandera puluhan warga Israel, pemimpin baru harus bisa memberi keputusan.

Selain Hayya, yang merupakan kepala negosiator Hamas, pesaing utama kepemimpinan lainnya adalah Khaled Meshaal, pendahulu Haniyeh, dan Mohammad Darwish, seorang tokoh yang kurang dikenal yang mengepalai Dewan Syura, menurut para analis dan sumber Hamas. Artikel ini telah tayang di Kompas.com 

Dapatkan Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini

Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved