Murid SD yang Dihukum Duduk di Lantai karena Menunggak Uang Sekolah Bisa Alami Trauma

Pelajar laki-laki tersebut diminta sang guru duduk di lantai karena belum bayar sekolah. Kasus ini viral hingga membuat netizen gempar

Editor: Joseph Wesly
Istimewa
Murid SD di Yayasan Abdi Sukma, Medan dihukum duduk di lantai saat jam pelajaran karena belum bayar uang sekolah. 

TRIBUN TANGERANG.COM, MEDAN- Baru-baru ini viral soal murid 4 SD di Medan yang dihukum duduk di lantai saat jam pelajaran oleh gurunya.

Pelajar laki-laki tersebut diminta sang guru duduk di lantai karena belum bayar sekolah.

Kasus ini viral hingga membuat netizen gempar hingga sampai ke telinga anggota DPR.

Kepala Sekolah Abdi Sukma, Juli Sari, menjelaskan, awalnya dirinya tidak mengetahui siswa kelas 4 SD tersebut duduk di lantai saat proses belajar mengajar di sekolah.

Dikatakan Juli, pihak yayasan, tidak pernah mengeluarkan kebijakan siswa yang belum bayar SPP untuk duduk di lantai.

Dia pun mengaku sudah meminta maaf kepada orang tua sang murid dan mengatakan kebijakan itu datang dari guru sang murid bukan kebijakan sekolah.

Menanggapi kasus tersebut, Psikolog klinis dari Analisa Personality Development Center (APDC) Indonesia, Pramudita Tungga Dewi angkat bicara.

Dia mengatakan hukuman duduk di lantai tersebut tidak tepat karena bukan disebabkan masalah yang dilakukan oleh siswa itu sendiri.  

"Hukuman tidak tepat yang telah diberikan kepada siswa ini dapat membuat siswa yang bersangkutan mengalami trauma dan berdampak pada berbagai aspek psikologis pada dirinya, seperti kepercayaan diri, self esteem, motivasi, dan hubungan sosialnya," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (14/1/2025).  

Ia khawatir dalam kasus ini anak tersebut menjadi tidak percaya diri dalam menjalin hubungan di kemudian hari, baik itu kepada guru maupun teman.

Baca juga: Viral Murid SD di Medan Disuruh Belajar di Lantai karena Belum Bayar Uang Sekolah

Pasalnya, menurut Pramudita, jika seorang anak mengalami pengalaman traumatis maka akan memengaruhi hubungan sosial dan kehilangan rasa kepercayaan diri di kemudian hari. 

"Anak dapat mempersepsi guru bukanlah sosok yang aman, sehingga tidak menaruh rasa percaya dan enggan dalam berinteraksi. Kemudian anak juga menjadi tidak percaya diri dalam menjalin interaksi dengan teman-temannya," tuturnya.  

Diketahui sebelumnya, seorang siswa kelas 4 SD di Yayasan Abdi Sukma, Medan, dihukum oleh guru berinisial H dengan cara duduk di lantai saat jam belajar.

Hukuman tersebut dikabarkan karena siswa tersebut menunggak uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) selama tiga bulan. 

Duduk di Lantai karena Belum Bayar Uang Sekolah

Viral kisah seorang pelajar di Medan yang terpaksa duduk di lantai kelasnya untuk belajar.

Murid SD berinisial MA tersebut terpaksa belajar di lantai sendirian di saat teman-temannya belajar dengan nyaman di kursi,

MA terpaksa melakoni hal itu karena orang tuanya menunggak uang sekolah.

Karena belum membayar uang sekolah tiga bulan, wali kelasnya meminta MA belajar di lantai.

Kisah yang dialami MA viral di media sosial.

Video viral itu ramai di medsos setelah diunggah akun Instagram @medanheadlines.news,

Dalam rekaman video tampak ibu dari siswa SD tersebut, Kamelia (38), mendatangi sekolah dan menyaksikan langsung anaknya duduk di lantai. 

MA, seorang siswa kelas IV SD Abdi Sukma di Kota Medan, Sumatera Utara, dihukum gurunya berinisial H belajar di lantai, hanya karena belum membayar uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP).

Video siswa malang itu belajar di lantai kemudian viral di media sosial dan menjadi perbincangan di media sosial.

Kamelia (38) ibu dari siswa SD kelas IV di Medan yang viral disuruh gurunya belajar di lantai menangis saat diwawancarai di rumahnya, Jumat (10/1/2025).
Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Kamelia (38) ibu dari siswa SD kelas IV di Medan yang viral disuruh gurunya belajar di lantai menangis saat diwawancarai di rumahnya, Jumat (10/1/2025). Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6 Download aplikasi: https://kmp.im/app6 (Rahmat Utomo/Kompas.com)

Di video yang diunggah akun Instagram @medanheadlines.news, tampak ibu dari siswa SD tersebut, Kamelia (38), mendatangi sekolah dan menyaksikan langsung anaknya duduk di lantai.

Di tempat itu, Kamelia tampak marah dengan wali murid.

 "Ibu orang yang berpendidikan, ibu jauh lebih berpendidikan dari saya, setidaknya jangan buat anak saya kayak binatang kayak gini," ujar Kamelia sambil menunjuk anaknya yang sedang duduk di lantai.

Diwawancarai di rumahnya di Jalan Brigjend Katamso, Kota Medan, Kamelia menjelaskan duduk perkara peristiwa memilukan yang menimpa anaknya.

Kamelia mengakui anaknya menunggak uang sekolah hingga tiga bulan karena dana Program Indonesia Pintar (PIP) di tahun 2024 belum cair.

Sementara, dia terdesak kebutuhan ekonomi mengingat suaminya hanya bekerja sebagai tukang bangunan.

Karena belum membayar uang sekolah selama tiga bulan, saat pembagian rapot di akhir tahun, anaknya juga tidak bisa menerima rapot.

Kamelia sempat meminta dispensasi waktu pembayaran kepada kepala sekolah. Kemudian, sebelum anaknya masuk sekolah, wali murid mengumumkan di grup WhatsApp orangtua murid bahwa siswa yang belum membayar uang sekolah tidak diperkenankan belajar.

"Saya pikir itu cuma kata-kata saja," ujar Kamelia kepada wartawan di rumahnya, Jumat  (10/1/2025).

Kamelia mengatakan, rencananya dia mau membayar uang sekolah pada Rabu (8/1/2025). Dia ingin menjual ponsel terlebih dahulu untuk biaya sekolah anaknya.

Namun, sebelum dia pergi ke sekolah, dia sempat mendengar cerita anaknya yang malu datang ke sekolah karena sudah dua hari dihukum belajar di lantai oleh gurunya, dari jam masuk sekolah pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB.

"Malu loh Mak ke sekolah. Kenapa malu? (Saya) disuruh duduk di semen, gara-gara belum ambil rapot lah sejak Senin sampai Selasa'," ujar Kamelia menirukan ucapan anaknya.

Kala itu, Kamelia tidak langsung percaya, sehingga pada Rabu (8/1/2025), dia langsung datang ke sekolah.

"Begitu sampai gerbang sekolah, kawan-kawan anak saya ngejar saya, sambil bilang, 'ambilah rapotnya, Bu. Kasihan kali (MA) duduk di semen kayak pengemis'. Di situ saya sempat nangis, ya Allah, kok kayak gini kali," ujar Kamelia.

Lalu, saat tiba di ruang kelas, Kamelia melihat anaknya duduk di lantai sementara teman-teman yang lain duduk di kursi.

"Saya bilang ke anak saya, 'kejam kali guru mu, nak'. Baru datang wali kelasnya dan langsung bilang, 'peraturannya kalau belum bayar tidak dibenarkan sekolah'," ujar Kamelia menirukan ucapan wali murid anaknya.

Kata Kamelia, wali murid menyuruh anaknya duduk di lantai karena sang anak tidak mau disuruh pulang.

"'Anak ibu sudah saya suruh pulang, tetapi dia tidak mau pulang'. Jadi dia tidak boleh belajar? Kata saya, terus saya bilang, 'dulu saya sekolah, tapi tidak gini juga caranya, dihukum kayak gini'," ujar Kamelia menceritakan perdebatan dengan wali murid anaknya.

Selanjutnya, tidak berselang lama, kepala sekolah SD tersebut hadir dan menengahi. Kamelia lalu bertanya kepada kepala sekolah tersebut apakah aturan itu diberlakukan oleh sekolah.

"Saya tidak tahu kata kepala sekolahnya," ujar Kamelia menirukan ucapan kepala sekolah.

Penjelasan kepala sekolah

Kepala Sekolah Abdi Sukma, Juli Sari, menjelaskan, awalnya dirinya tidak mengetahui siswa kelas 4 SD tersebut duduk di lantai saat proses belajar mengajar di sekolah.

Dikatakan Juli, pihak yayasan, tidak pernah mengeluarkan kebijakan siswa yang belum bayar SPP untuk duduk di lantai.

"Jadi sebenarnya ada miskomunikasi. Saya juga baru mengetahui siswa tersebut didudukkan di lantai setelah wali muridnya datang ke sekolah menemui saya sambil menangis," kata dia dikutip dari Tribun Medan, Jumat.

Diakui Juli, siswa tersebut belum melunasi SPP dan karena itu belum dapat menerima rapot.

"Sebenarnya anak itu tidak menerima rapot karena belum melunasi SPP. Tapi tidak jadi permasalahan sebenarnya dan tetap bisa mengikuti pelajaran," terangnya.

Hanya saja, kata Juli, miskomunikasi terjadi antara dirinya dan wali kelas. Menurutnya, wali kelas tersebut membuat peraturan sendiri tanpa ada konfirmasi ke dia terlebih dahulu.

"Wali kelasnya membuat peraturan sendiri di kelasnya bahwa kalau anak tidak ada menerima rapot tidak boleh menerima pelajaran dan mendudukkan siswa tersebut di lantai saat pelajaran berlangsung, tanpa kompromi dengan pihak sekolah," terangnya.

Juli mengaku sudah melakukan pemanggilan terhadap wali murid dan wali kelas secara langsung. Sebagai kepala sekolah, dia sudah meminta maaf kepada orangtua siswa tersebut.

"Saya sebagai kepala sekolah sudah memohon maaf sama orangtua sudah selesai sebenarnya permasalahan ini,"terangnya.

Untuk tindakan tegas terhadap wali kelas, Kata Juli pihaknya belum bisa memutuskan secara langsung.

Senin pekan depan, sekolah akan melakukan rapat kembali dengan ketua yayasan dan bendahara untuk memutuskan sanksi kepada wali kelas tersebut. Pihak sekolah juga sudah menurunkan tim relawan untuk datang ke rumah siswa tersebut.

Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini

Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News

 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved