Perang Iran Israel

Gencatan Senjata Israel-Iran Hanya Temporer, Diprediksi Bakal Memanas Lagi 

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai jika gencatan senjata hanyalah jeda yang diambil Israel dan Amerika Serikat (AS).

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Joko Supriyanto
Kompas TV
QATAR TANGKIS RUDAL -- Suasana di langit Doha sempat memanas saat sistem pertahanan udara Qatar, bekerja sama dengan pasukan AS, berhasil mencegat puluhan rudal Iran yang diluncurkan ke arah. Pangkalan Udara Al Udeid, pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah, pada Senin malam, 23 Juni 2025 . 

TRIBUNTANGERANG.COM - Perang antara Israel dan Iran yang berakhir dengan klaim kemenangan di kubu kedua belah pihak, masih menimbulkan tanda tanya besar apakah benar-benar selesai atau akan ada konflik susulan.

Pasalnya, banyak pihak yang meragukan gencatan senjata tersebut.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai jika gencatan senjata hanyalah jeda yang diambil Israel dan Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, akan ada serangan susulan yang dilancarkan untuk membuat negara-negara di Timur Tengah tunduk kepadanya.

"Gencatan senjata ini temporer saja sifatnya. Israel dan AS pasti akan memulai lagi suatu saat, hingga target mereka, yaitu pergantian pemimpin di Iran dan kehancuran program nuklir Iran," kata Wijayanto saat dihubungi Warta Kota, Jumat (27/6/2025).

"Serangan Israel dan AS kemarin gagal mewujudkan itu . Israel memang ingin negara-negara di Timur Tengah tunduk pada kekuatannya," lanjutnya.

Wijayanto menilai, pihak AS dan Israel menginginkan kehancuran politik dan ekonomi untuk negara-negara seperti Syiria, Iraq dan Libya.

Sehingga, perang adalah salah satu cara jitu yang dimanfaatkannya untuk mendominasi kawasan.

Tak hanya itu, dampak peperangan itu juga bisa meluas hingga berdampak pada negara-negara lain, termasuk Indonesia.

"Harga energi dan ketidakpastian global akan meningkat. Ini akan mengurangi investasi, memperburuk kondisi fiskal kita, menekan nilai tukar Rupiah dan memperlambat pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.

Sementara itu, dilansir dari Aljazeera.com, Jumat (27/6/2025), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kini mengincar langkah-langkah yang lebih besar di seluruh wilayah. 

Ia bukan sekadar membebaskan tawanan Israel dari Gaza, bukan sekadar berniat menghancurkan Hamas, tetapi juga mengincar sesuatu yang lebih muluk.

"Sesuatu yang dengan bantuan presiden AS, Netanyahu harapkan akan memperkuat warisan dan kedudukannya di kalangan sayap kanan di Israel," demikian yang dilaporkan Aljazeera.com, Jumat.

"Yang sedang dibicarakan adalah lebih banyak kesepakatan normalisasi dengan negara-negara tetangga di wilayah tersebut – kesepakatan yang akan menjadikan penghentian perang di Gaza sebagai komponen daripada isu utama dalam upaya untuk bergerak maju," imbuhnya.

Upaya itu juga nampak dibantu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang turun tangan, mengkritik tuduhan korupsi yang sedang berlangsung terhadap Netanyahu, meminta agar persidangan tersebut diselesaikan. 

"Saat ini, momentum sedang dibangun, bukan hanya oleh protes untuk menuntut diakhirinya perang di Gaza, tetapi dari Netanyahu untuk mencoba menemukan kesepakatan yang lebih besar dari Gaza, yang akan menjaga koalisi sayap kanannya tetap utuh," tulis akhir laporan tersebut. (m40)

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved