Perang Iran Israel

Presiden Iran Tegaskan Tak Akan Serang Duluan, Siap Dialog Jika Israel Hormati Gencatan Senjata

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pihaknya tak akan melancarkan serangan, kecuali Israel menyerang lebih dahulu.

Editor: Joko Supriyanto
Youtube Prabowo Subianto
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pezeshkian juga menyatakan bahwa Iran terbuka untuk berdialog dan akan melindungi kepentingan rakyat Iran di meja perundingan, menurut laporan media Nournews Iran. 

TRIBUNTANGERANG.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pihaknya tak akan melancarkan serangan, kecuali Israel menyerang lebih dahulu.

Hal itu disampaikan Pezeshkian kepada media dan dilaporkan oleh media Nournews Iran, dikutip dari Aljazeera.com, Selasa (24/6/2025).

Pezeshkian juga menyatakan bahwa Iran terbuka untuk berdialog dan akan melindungi kepentingan rakyat Iran di meja perundingan, menurut laporan media Nournews Iran.

"Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Iran akan menghormati gencatan senjata dengan Israel selama Israel juga melakukannya," demikian laporan Ali Hashem, reporter Al-jazeera.com yang melaporkan dari Teheran, Iran.

Pezeshkian juga mengatakan Iran terbuka untuk dialog dan akan melindungi kepentingan rakyat Iran di meja perundingan.

Sementara itu, dalam sebuah konferensi pers, James Jeffrey selaku Mantan Duta Besar AS untuk Iran meminta kepada masyarakat agar percaya bahwa Presiden Amerika Serkat Donald Trump, bukanlah sosok yang ingin mengganti rezim.

Padahal sebelumnya, Trump terang-terangan menyebut jika Iran saat ini dipimpin oleh rezim yang lemah.

"Trump dilaporkan mengatakan kepada pihak Israel, 'Jangan serang Pemimpin Tertinggi Iran, kita butuh seseorang untuk diajak bernegosiasi'," ucap James, Selasa.

Menurutnya, orang-orang di sekeliling Trump bukanlah tipe pendukung perubahan rezim.

Pasalnya, mereka sudah mengalami sendiri betapa mengerikannya pengalaman perubahan rezim di Irak dan Afghanistan saat mencoba melakukan itu.

"Dan kita memang tidak ahli dalam hal tersebut. Selalu saja berantakan di lapangan," ungkapnya. 

James lantas mengulas sejarah lama di 50 tahun terakhir di Vietbam, di mana dirinya menyaksikan belasan gencatan senjata, namun seluruhnya kacau.

Di mana, pasukan militer tetap mendapat perintah penyerangan di waktu-waktu yang salah dan tidak sinkron.

"Apa yang sekarang terjadi ini, ya, kebingungan seperti ini adalah hal yang normal. Tapi yang jelas, situasinya sedang bergerak ke arah yang sangat, sangat positif," katanya.

James menyebut, masalah yang besar terjadi akibat Israel, di mana pemimpinnya yakni Benjamin Netanyahu memiliki karakter keras.

"Tapi Trump akan memperjelas bahwa dia telah memberikan jasa besar kepada Netanyahu – dengan melakukan pemboman di Fordow, seperti yang Netanyahu inginkan – dan dia tidak akan menerima jawaban "tidak"," pungkasnya. (m40)

Dapatkan Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini

Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved