Kisah Inspiratif
Ketika Nastar Menghidupi Satu Kampung di Tangerang
pengunjung akan disambut tulisan besar “Kampung Nastar” yang seolah menjadi gerbang menuju dunia kecil para pembuat kue.
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, LARANGAN - Kampung Nastar mulai dikenal sebagai sentra penjualan kue nastar yang diolah warganya.
TribunTangerang.com mendatangi kampung yang berada di Jalan Haji Unus, kawasan Larangan, Kota Tangerang, dan perlahan menjadi tujuan bagi pencinta kue kering yang mencari rasa rumahan.
Saat memasuki gang menuju kampung, pengunjung akan disambut tulisan besar “Kampung Nastar” yang seolah menjadi gerbang menuju dunia kecil para pembuat kue.
Suasana di gang itu langsung terasa berbeda, dengan harum kue menghadirkan nuansa hangat dari aktivitas warga yang sehari-hari berkutat dengan adonan dan aroma kue.
Di sepanjang dinding gang, terpampang berbagai lukisan yang menggambarkan dunia nastar. Mulai dari gambar buah nanas, selai nanas yang dibuat secara homemade, hingga ilustrasi bahan-bahan yang menjadi bagian penting dari pembuatan kue tersebut.
Gang kecil itu pun terasa seperti galeri yang mengisahkan perjalanan sebuah kue tradisional.
Tak hanya itu, di Kampung Nastar juga terdapat zona kue dadakan yang disiapkan untuk menyambut para pengemudi ojek online yang datang membeli pesanan.
Beragam merek kue diproduksi dan dijual di kampung ini, menjadikannya pusat kecil perputaran usaha rumahan yang terus hidup dari dapur-dapur warga.
Pelopor usaha kue di Kampung Nastar, Sri Kusmiati, mengatakan usaha kue yang ia jalankan sudah dimulai sejak 1997. Saat itu, ia merintis usaha dengan peralatan yang sangat terbatas.
“Rintisannya dari tahun 1997. Waktu itu oven saja masih pinjam tetangga,” kata Sri saat ditemui TribunTangerang.com, Larangan, Kota Tangerang, Minggu (15/3/2026).
Seiring waktu, usaha kue yang awalnya hanya dilakukan di dapur rumah berkembang menjadi usaha yang semakin dikenal.
Kini, kawasan tersebut bahkan dikenal sebagai Kampung Nastar karena banyaknya industri kue rumahan yang tumbuh di sana.
“Awalnya mungkin saya duluan, tapi kemudian ada teman dari kampung sebelah pindah ke sini dan ikut usaha. Lama-lama berkembang,” ujarnya.
Dari perkembangan tersebut, muncul berbagai usaha kue baru yang sebagian besar dirintis oleh mantan pekerja atau warga sekitar yang belajar membuat kue.
| Kisah Agis Tasya Putri, Anak Pemulung yang Berani Menjual Lukisan untuk Beli Beras |
|
|---|
| Berawal dari Sakit, Junita Sukses Racik Teh Herbal hingga Tembus Pasar Global |
|
|---|
| Dari Bau Menyengat ke Kebun Produktif: Cara Warga Cipayung Tangsel Ubah Sampah Jadi Berkah |
|
|---|
| Cara Warga Tangsel Mengolah Sampah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Berkualitas |
|
|---|
| Prinsip ‘Tabah Sampai Akhir’ Bawa Perseroda PITS Tangsel Keluar dari Krisis Puluhan Miliar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/KAMPUNG-NASTAR-674.jpg)