Jumat, 8 Mei 2026

Liputan Khusus

Bahaya Judol Makin Nyata, Ada Efek ‘Dopamine Trap’ yang Bisa Rusak Mental dan Finansial

Konselor ESYA Therapy Center Sidoarjo, Agustina Twinky menjelaskan fenomena ketergantungan judol tidak lepas dari cara kerja otak manusia. 

Tayang:
shutterstock
JUDI ONLINE - Menurut Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mencatat Jawa Barat, khususnya Bekasi, Depok, dan Bogor serta Jakarta Barat sebagai wilayah dengan aktivitas transaksi dan jumlah pemain judol tertinggi di Indonesia.  

Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT - Fenomena judi online kian mengkhawatirkan dan menyasar berbagai lapisan masyarakat. 

Menurut Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mencatat Jawa Barat, khususnya Bekasi, Depok, dan Bogor serta Jakarta Barat sebagai wilayah dengan aktivitas transaksi dan jumlah pemain judol tertinggi di Indonesia. 

Kasus tersebut terjadi pada tahun 2024 yang dipublikasikan November 2025.

Akses Judol yang mudah menjadi salah satu faktor utama maraknya praktik judi online. Kini, masyarakat dapat mengaksesnya hanya melalui ponsel pintar, bahkan kerap terselip dalam aplikasi permainan yang tampak biasa. 

Tawaran berjudi sering muncul dengan bahasa yang halus dan persuasif, sehingga tanpa disadari menarik minat pengguna.

Konselor ESYA Therapy Center Sidoarjo, Agustina Twinky menjelaskan fenomena ketergantungan judol tidak lepas dari cara kerja otak manusia. 

"Secara psikologis, ini berkaitan erat dengan sistem di otak yang memberi rasa senang atau dopamine saat seseorang mendapat hadiah, misalnya menang taruhan,” ujar Agustina Twinky kepada TribunTangerang.com, Sabtu (18/4/2026).

Ia menambahkan, sistem hadiah yang tidak pasti justru memperkuat ketergantungan. 

"Masalahnya, hadiah yang tidak pasti membuat otak semakin terpancing untuk mencoba lagi. Jadi meski kalah, tetap ada keinginan untuk mencoba terus karena penasaran atau ingin merasakan menang lagi,” ucapnya.

Ketergantungan judol, lanjutnya, tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada kombinasi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan yang saling memengaruhi. Dorongan dopamine, kondisi emosional, serta lingkungan sosial menjadi pemicu utama seseorang terjerumus dalam kebiasaan ini.

“Secara psikologis, judi sering jadi pelarian dari stres, ditambah pola pikir keliru seperti merasa kekalahan bisa segera diganti,” jelasnya.

Pola pikir tersebut membuat individu sulit berhenti meski telah mengalami kerugian berulang.

Menurut Agustina, lingkungan turut memperkuat kebiasaan berjudi. Kemudahan akses serta pengaruh teman atau komunitas membuat aktivitas ini seolah menjadi hal yang lumrah. 

Akibatnya, kebiasaan tersebut berkembang menjadi ketergantungan yang sulit dihentikan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved