Komunitas
Komunitas Pilah Sampah Jadi Pusat Edukasi Lingkungan dari Tangsel
Komunitas Pilah Sampah berkembang jadi rumah edukasi, tempat tersebut tidak hanya menjadi lokasi penampungan sampah terpilah, tapi sarana belajar
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, SERPONG - Komunitas Pilah Sampah yang berlokasi di Jalan Cilenggang II Nomor 43, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, berdiri dari gagasan Nahdya Maulina pada 2020 saat pandemi COVID-19 berlangsung.
Saat itu, di area parkir rumahnya, wanita berumur 41 tahun itu mulai mengajak tetangga, teman kantor, hingga keluarga untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah.
“Komunitas ini terbangun tahun 2020, waktu itu lagi Covid, dan saya yang memulai komunitas ini dengan cara mengajak banyak orang untuk mengumpulkan sampah beberapa jenis di carport rumah saya,” ujar Nahdya Maulina kepada TribunTangerang.com, Serpong, Tangsel, Sabtu (9/5/2026).
Sebelum membentuk rumah edukasi ini, Nahdya mengaku sudah memilah sampah secara mandiri selama lebih dari 10 tahun. Namun, pandemi menjadi momentum yang membuatnya berani mengajak masyarakat ikut bergerak.
Menurutnya, sampah memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, sampah bisa bernilai ekonomi dan dimanfaatkan kembali. Namun di sisi lain, sampah yang tidak dikelola akan menjadi persoalan lingkungan.
“Sampah ini punya dua sisi, kayak mata uang. Dia punya nilai ekonomi, nilai estetika, dan bisa dipakai lagi. Tapi kalau tidak dikelola, sampah akan menumpuk di TPA dan menimbulkan masalah lingkungan maupun sosial,” katanya.
Kesadaran itulah yang membuat Nahdya memilih fokus pada pengelolaan sampah dari sumbernya. Ia meyakini perubahan besar harus dimulai dari rumah tangga.
“Karena saya mengetahui ada dua sisi ini, saya memilih sisi yang lebih positif, yaitu dengan cara memilah sampah dan mengumpulkannya,” lanjutnya
Rumah Edukasi yang Mengubah Cara Pandang Masyarakat
Komunitas Pilah Sampah berkembang menjadi rumah edukasi, tempat tersebut tidak hanya menjadi lokasi penampungan sampah terpilah, tetapi juga ruang belajar masyarakat.
“Tempat ini bisa jadi tempat belajar, tempat edukasi antar masyarakat tentang pengelolaan sampah dari sumbernya secara mandiri,” kata Nahdya.
Komunitas ini aktif memberikan edukasi kepada berbagai kalangan, mulai dari anak usia dini hingga orang dewasa. Bentuk edukasinya dibuat menarik melalui permainan, workshop, hingga alat belajar interaktif.
"Kita bikin buku, kartu, games. Jadi pada saat edukasi nggak melulu ngomong, tapi praktik juga,” ujarnya.
Komunitas Pilah Sampah menawarkan produk edukasi seperti puzzle dan kartu permainan tematik sampah yang dijual dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah untuk mendukung pembelajaran pengelolaan sampah secara interaktif.
Menurut Nahdya, tantangan terbesar bukan sekadar mengajarkan teknis memilah sampah, melainkan mengubah kebiasaan lama yang diwariskan turun-temurun.
| Tetap Aktif Jelajah Gunung, Komunitas Pendaki U-50 Plus Ini Buktikan Semangat Tak Pernah Tua |
|
|---|
| Metarun Gaungkan Semangat Sportif dan Gaya Hidup Sehat Lewat Metaversary 3.0 |
|
|---|
| Milad ke-42 BMKT, Syifa Fauzia: Jadi Garda Terdepan Perjuangan dan Pemberdayaan Umat |
|
|---|
| Resmikan Sekretariat di Jakarta, Forbis Jateng Ajak Masyarakat Bangun Kewirausahaan |
|
|---|
| Terinspirasi dari Serial The Last Of Us, Instalasi Mural 3 D Hadir di Terowongan Kendal Jakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Komunitas-Pilah-Sampah-Tangsel-08342.jpg)