Selasa, 12 Mei 2026

Komunitas

Komunitas Pilah Sampah Jadi Pusat Edukasi Lingkungan dari Tangsel

Komunitas Pilah Sampah berkembang jadi rumah edukasi, tempat tersebut tidak hanya menjadi lokasi penampungan sampah terpilah, tapi sarana belajar

Tayang:
Tribuntangerang.com/Ikhwana Mutuah Mico
KISAH KOMUNITAS - Komunitas Pilah Sampah adalah gerakan yang dimulai dari rumah untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat memilah serta mengelola sampah dari sumbernya melalui pendekatan edukasi, (TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico) 

“Kadang kita mewarisi knowledge seperti membakar sampah daun karena dari dulu dianggap biasa. Padahal sekarang kita tahu dampaknya besar bagi kesehatan dan lingkungan,” jelasnya.

Karena itu, komunitas yang dirintis bersama rekannya, Febty Febriani, rutin mengadakan webinar serta turun langsung ke masyarakat untuk membangun persepsi baru tentang sampah.

"Kalau kita turun ke masyarakat, baru ketahuan bahwa warisan-warisan pengetahuan tadi masih mengakar banget. Maka kita hadir untuk kasih perspektif baru dengan cara yang menyenangkan,” katanya.

Baca juga: Tetap Aktif Jelajah Gunung, Komunitas Pendaki U-50 Plus Ini Buktikan Semangat Tak Pernah Tua

Bertahan Lewat Edukasi dan Model Bisnis Sosial

Meski berbasis komunitas, Pilah Sampah tidak hanya mengandalkan semangat sukarela. Nahdya menyadari gerakan lingkungan membutuhkan keberlanjutan agar bisa terus berkembang.

“Kita bertahan dan berkembang itu karena membuat model bisnis. Jadi nggak bisa hanya mengandalkan jiwa volunteer,” ungkapnya.

Awalnya, operasional komunitas berjalan dari dana pribadi dan hasil penjualan sampah. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap edukasi lingkungan, komunitas mulai membuka layanan pelatihan dan workshop berbayar.

“Kita melihat ternyata kebutuhan edukasi itu besar di masyarakat. Akhirnya kita bikin modul dan paket edukasi untuk semua usia,” kata Nahdya.

Paket edukasi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Anak-anak diberikan kegiatan kreatif seperti membuat prakarya dari sampah, sedangkan ibu rumah tangga diajak belajar mengelola minyak jelantah dan sampah organik.

"Anak-anak sukanya yang lucu-lucu, jadi kita bikin workshop prakarya. Kalau ibu-ibu biasanya tertarik sama jelantah dan organik,” ujarnya.

Selain edukasi, Komunitas Pilah Sampah juga menjadi partner pengelolaan sampah berbagai acara perusahaan dan kampus. Sampah dari kegiatan dipilah dan dicatat jumlahnya sebelum dikirim ke pengolah akhir.

“Kalau ada perusahaan atau kampus bikin event dan sampahnya mau dikelola dengan cara kita, nanti kita pilah dan laporkan berapa sampah yang berhasil didaur ulang,” jelas Nahdya.

Baca juga: Komunitas Banksasuci Tangerang Sebut Penangkapan Sapu-Sapu Tak Perlu Masif: Masih Ada Manfaatnya

Menumbuhkan Kesadaran dan Harapan Masa Depan

Bagi Nahdya, membangun kesadaran masyarakat soal sampah bukan proses yang instan. Ia menilai perubahan perilaku membutuhkan paparan informasi yang terus-menerus dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

“Kesadaran itu lama. Orang yang tadinya cuek harus terus dipaparkan informasi yang relate dengan kehidupan mereka,” ucap wanita berhijab itu.

Salah satu cara yang dilakukan komunitas ini ialah membuat konten media sosial dengan pendekatan emosional. Nahdya pernah mengaitkan persoalan sampah dengan masa depan anak-anak.

“Saya pernah bikin konten tentang TPA Bantargebang yang overload, lalu saya kaitkan dengan anak saya. Kalau kita terus cuek sama sampah, nanti anak-anak kita menghadapi masalah yang lebih berat,” ujarnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved