Laundry Ramah Lingkungan di Tangsel Gunakan Deterjen dari Limbah Buah dan Sayur
Ananta mengatakan keputusan tersebut berangkat dari kepeduliannya terhadap lingkungan, terutama limbah air dari usaha laundry miliknya.
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan
TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, PONDOK AREN - Deru mesin cuci dan tumpukan pakaian pelanggan menjadi pemandangan sehari-hari di Binatu Koe sebuah laundry rumahan, perumahan Pondok Jaya, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Usaha milik Anantasa memilih jalan berbeda. Sejak 2021, ia meninggalkan deterjen kimia dan beralih menggunakan cairan fermentasi kulit buah serta sayur dari limbah dapur sebagai sabun ramah lingkungan untuk mengurangi pencemaran air dan sampah plastik jerigen deterjen.
Ananta mengatakan keputusan tersebut berangkat dari kepeduliannya terhadap lingkungan, terutama limbah air dari usaha laundry yang berada di tengah permukiman warga.
Ia mengaku tidak ingin limbah deterjen mencemari saluran air di sekitar rumahnya.
“Usaha kami ada di lingkungan perumahan, jadi saya tidak ingin mencemari lingkungan sekitar, terutama airnya,” ujar Anantasari kepada TribunTangerang.com, Pondok Aren, Tangsel, Kamis (28/5/2026).
Eco enzyme yang digunakan Ananta dibuat dari limbah organik rumah tangga seperti kulit jeruk, nanas, lemon, dan berbagai sisa sayuran. Bahan-bahan itu difermentasi menggunakan air dan molase selama minimal 90 hari hingga menghasilkan cairan berwarna cokelat dengan aroma asam segar khas fermentasi buah.
Di rak sudut ruang laundry, berjajar puluhan wadah plastik berisi cairan eco enzyme dengan berbagai usia fermentasi. Sebagian masih mengeluarkan gas, sebagian lain tampak bening kecokelatan dan siap dipanen. Aroma buah fermentasi tercium cukup kuat saat salah satu wadah dibuka.
“Kalau bahan organiknya banyak kulit jeruk, aromanya jadi segar. Setiap eco-enzyme bisa berbeda wanginya tergantung bahan yang dipakai,” ujar Ananta.
Ananta mengenal eco-enzyme pada Oktober 2020 saat pulang ke kampung halamannya di Malang, Jawa Timur.
Saat itu, ia membaca artikel tentang eco enzyme di sebuah surat kabar lokal. Rasa penasaran membuatnya mencari informasi lebih lanjut melalui internet hingga mengikuti webinar komunitas Eco Enzyme Nusantara.
“Dari situ saya mulai belajar sendiri, mencoba membuat di rumah, lalu pelan-pelan diaplikasikan untuk laundry,” tuturnya.
Peralihan ke deterjen ramah lingkungan itu sempat membuatnya khawatir. Sebab, eco enzyme masih asing bagi banyak orang. Warna cairannya yang cokelat dan aroma fermentasinya dianggap tidak menarik dibanding deterjen komersial yang identik dengan warna cerah dan pewangi menyengat.
“Risikonya pelanggan belum tentu cocok. Orang biasanya beli sabun itu lihat warna dan wanginya,” ucapnya.
Namun kekhawatiran itu perlahan hilang. Menurut Ananta, pelanggan justru memberikan respons positif setelah mengetahui deterjen yang digunakan berasal dari limbah organik dan lebih ramah lingkungan.
| Prakiraan Cuaca Tangsel, Tangerang dan Kota Tangerang Kamis 28 Mei 2026: Sebagian Cerah |
|
|---|
| Pemkot Tangsel Ingatkan Panitia Kurban Soal Limbah, Ini Aturannya |
|
|---|
| Polsek Ciputat Timur Klaim Belum Ada Laporan Kriminal Terkait Isu Teror Pocong di Tangsel |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Tangsel, Tangerang dan Kota Tangerang Selasa 26 Mei 2026: Sebagian Cerah |
|
|---|
| SIM Keliling di Tangerang Selatan Selasa 26 Mei 2026, Ada 2 Lokasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Pelaku-UMKM-laundry-78R.jpg)