Minggu, 3 Mei 2026

Perubahan Iklim Bikin Ilmu Titen Ambyar, BMKG Gencarkan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan

Bahkan, tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan dan menjadi korban akibat badai dan gelombang tinggi.

Tayang:
Editor: Yaspen Martinus
Twitter @dwiko_rita
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, ilmu titen yang kerap menjadi pegangan nelayan, ambyar akibat perubahan iklim. 

"Perubahan iklim sendiri adalah peristiwa global, namun dampaknya dirasakan secara regional ataupun lokal."

"Tidak ada batasan teritorial negara," tuturnya.

Dwikorita menyebut, kondisi inilah yang memacu BMKG menggencarkan pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di daerah-daerah pesisir pantai.

Baca juga: Agung Mozin dan Neno Warisman Mundur, Ketua Umum Partai Ummat: Itu Persoalan Kecil

Melalui SLCN yang digelar, BMKG ingin nelayan dapat melaut, mendapatkan hasil dan pulang dengan selamat.

SLCN, lanjutnya, bertujuan meningkatkan keterampilan nelayan Indonesia dalam mengakses, membaca, menindaklanjuti, dan mendiseminasikan informasi cuaca, iklim maritim, serta informasi prakiraan lokasi ikan dari sumber yang terpercaya.

SLCN juga menjadi bagian dari ikhtiar BMKG mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Baca juga: UPDATE Covid-19 Indonesia 8 Oktober 2021: 3.514 Pasien Sembuh, 1.384 Orang Positif, 66 Meninggal

"Kegiatan SLCN ini menggunakan pembelajaran interaktif, yaitu metode belajar dan praktik."

"Materi pokok yang akan diberikan yaitu pengenalan produk dan memahami informasi cuaca dan iklim maritim."

"Cara membaca informasi maritim dan pengenalan alat-alat observasi," jelasnya.

Luncurkan SIRITA

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluncurkan EWS Radio Broadcaster dan aplikasi SIRITA (Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert) di Cilacap, Jawa Tengah, Senin (4/10/2021).

Dua inovasi ini diluncurkan untuk mengantisipasi potensi tsunami di selatan Jawa.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, peluncuran dua inovasi ini sebagai respons BMKG atas meningkatnya aktivitas kegempaan di Indonesia.

Baca juga: Partai Buruh Targetkan Rebut 20 Kursi di DPR dan Menang di 10 Kabupaten/Kota Saat Pilkada

Berdasarkan pengamatan BMKG, selama periode 2008-2016, rata-rata terjadi 5.000 hingga 6.000 kali gempa bumi.

Pada 2017 meningkat menjadi 7,169, lantas mulai 2018 hingga 2019 melompat menjadi lebih dari 11.500 kali dalam satu tahun.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved