Minggu, 3 Mei 2026

Perubahan Iklim Bikin Ilmu Titen Ambyar, BMKG Gencarkan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan

Bahkan, tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan dan menjadi korban akibat badai dan gelombang tinggi.

Tayang:
Editor: Yaspen Martinus
Twitter @dwiko_rita
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, ilmu titen yang kerap menjadi pegangan nelayan, ambyar akibat perubahan iklim. 

TRIBUNTANGERANG, TRENGGALEK - Ilmu titen yang kerap menjadi pegangan nelayan, kini ambyar akibat perubahan iklim.

Hal itu dikatakan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.

Alhasil, katanya, tidak jarang nelayan harus pulang dengan tangan kosong karena hasil melaut tidak maksimal.

Baca juga: MUI: Vaksin Covid-19 Zifivax Halal dan Suci

Bahkan, tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan dan menjadi korban akibat badai dan gelombang tinggi.

"Ilmu titen sudah sangat sulit untuk dijadikan acuan."

"Cuaca dan iklim saat ini begitu sangat dinamis dan sukar untuk ditebak," ujar Dwikorita saat membuka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis (7/10/2021), dikutip dari laman bmkg.go.id.

Baca juga: Ingin Pemilu Digelar Sesuai Usul Awal KPU, PKS: Demokrasi Tak Boleh Melahirkan Duka

Dwikorita mengatakan, perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat.

Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi, tapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia.

Seperti, kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian, termasuk ekosistem wilayah pesisir.

Baca juga: Targetkan 20 Kursi di DPR, Partai Buruh Dinilai Terlalu Percaya Diri

Dwikorita mencontohkan saat banjir besar yang menyergap Jabodetabek di pengujung 2019 hingga awal 2020 silam.

Berdasarkan prakiraan yang terkonfirmasi dari analisis BMKG, kejadian tersebut disebabkan  seruak udara dingin (cold surge) dari Tibet ke Hong Kong, yang selanjutnya masuk ke wilayah Jabodetabek.

Cold surge sendiri merupakan seruakan yang mengandung massa udara dingin dari daratan Asia ke arah selatan.

Baca juga: BMKG Luncurkan SIRITA, Ponsel Bakal Berbunyi Keras Seperti Sirene Saat Ada Peringatan Dini Tsunami

Artinya, kata dia, perubahan iklim inilah yang kemudian menjadi biang keladi cuaca ekstrem yang kerap menghantam Indonesia.

Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es.

Meski bukan berasal dari Indonesia, lanjut dia, dampaknya bisa dirasakan oleh Indonesia.

Baca juga: Tak Peduli Kapanpun Digelar, Partai Ummat Siap Bertarung di Pemilu 2024

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved