Minggu, 3 Mei 2026

Perubahan Iklim Bikin Ilmu Titen Ambyar, BMKG Gencarkan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan

Bahkan, tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan dan menjadi korban akibat badai dan gelombang tinggi.

Tayang:
Editor: Yaspen Martinus
Twitter @dwiko_rita
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, ilmu titen yang kerap menjadi pegangan nelayan, ambyar akibat perubahan iklim. 

Meskipun kemudian agak menurun menjadi 8.258 kali di tahun 2020, jumlah ini masih di atas rata-rata kejadian gempa bumi tahunan di Indonesia.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Bikin Jumlah Orang Miskin di Indonesia Bertambah Menjadi 10,19 Persen

Dwikorita menjelaskan, EWS Radio Broadcaster merupakan moda diseminasi berbasis suara, guna mengantisipasi kerusakan jaringan komunikasi selular pasca-gempa merusak.

Sistem ini memanfaatkan jaringan komunikasi berbasis radio yang banyak digunakan oleh pegiat kebencanaan dan komunitas radio berbasis masyarakat, seperti RAPI dan ORARI.

Sistem ini sebagai hub untuk menyebarkan informasi secara cepat, akurat, serta ramah terhadap kelompok masyarakat rentan yang memiliki keterbatasan menelaah pesan berbasis teks.

Baca juga: Partai Ummat Optimis Tembus 5 Besar di Pemilu 2024

Sedangkan SIRITA adalah aplikasi sirene tsunami berbasis android, yang dibuat untuk memudahkan pemerintah daerah menyampaikan perintah evakuasi kepada masyarakat sebagai bentuk peringatan dini.

Dwikorita menyebut inovasi yang diprakarsai Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara ini, menjadi terobosan di tengah kendala banyaknya sirene tsunami yang mati akibat usia pakai.

"Di era saat ini, saya yakin hampir semua orang telah memiliki ponsel pintar berbasis android."

Baca juga: UPDATE Vaksinasi Covid-19 RI 8 Oktober 2021: Dosis Pertama 99.373.294, Suntikan Kedua 56.908.664

"Paling tidak, dalam satu rumah tangga pasti ada yang memiliki ponsel pintar, bisa jadi bahkan lebih."

"Maka dari itu, aplikasi ini akan sangat bermanfaat sebagai bentuk peringatan dini evakuasi bagi masyarakat di pesisir pantai," tutur Dwikorita, dikutip dari laman bmkg.go.id.

Dwikorita membeberkan, dipilihnya Cilacap sebagai tempat peluncuran inovasi teranyar BMKG tersebut, karena pusat perekonomian dan pemerintahan di kabupaten ini berada di pesisir pantai.

Baca juga: Dikurangi Menjadi Lima Hari, Sandiaga Uno Ingin Ada Resor Khusus untuk Karantina Wisatawan

Sedangkan jarak evakuasi menuju tempat yang relatif aman cukup jauh, sehingga cukup memakan waktu.

Di Cilacap juga, tambah Dwikorita, terdapat berbagai objek vital nasional dan strategis, di antaranya Kilang Minyak Pertamina, Pembangkit Listrik Tenaga Uap, dan pabrik semen Dynamix.

"Berdasarkan pemodelan, potensi ketinggian tsunami berkisar belasan meter, dengan estimasi kedatangan tsunami sekitar 50 menit."

Baca juga: Beredar Surat M Kece Cabut Laporan Polisi Terhadap Irjen Napoleon Bonaparte, Mengaku Tanpa Tekanan

"Namun, karena wilayah pesisir Cilacap sangat padat penduduk, maka butuh waktu lebih untuk proses evakuasi."

"Terlebih tempat evakuasi cukup jauh sekitar 2 hingga 4 kilometer," paparnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved