Telemedicine

Kebijakan WFO Diberlakukan, Telemedicine Tetap Jadi Solusi Layanan Kesehatan

ada dua keuntungan besar menggunakan telemedicine, yaitu waktu tunggu pasien yang lebih singkat dan biaya yang lebih murah.

Penulis: | Editor: Lilis Setyaningsih
pexels/mikhail-nilov
Era normal semakin banyak karyawan kantor yang sudah memberlakukan kerja di kantor menggantikan kerja dari rumah 

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG -- Seiring dengan kegiatan perekonomian Indonesia yang mulai dibuka kembali dan semakin banyak organisasi yang mendorong karyawannya untuk kembali bekerja di kantor.

Namun, pandemi belum benar-benar usai, sehingga setiap karyawan  diimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan seperti penggunaan masker di ruang publik dan tempat keramaian untuk menjaga kesehatan mereka.

Walaupun sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes), pastinya tidak luput dari risiko terkena penyakit. 

Baca juga: Telemedicine pada Penyandang Diabetes Melitus, Gula Darah Lebih Terkontrol, ini Alasannya

Danu Wicaksana, Managing Director PT Good Doctor Technology Indonesia mengatakan, sepanjang tahun 2020–2021 menunjukkan 8 gejala paling umum yang dialami oleh karyawan yang melakukan sesi telemedicine.

Dari 8 gejala itu, yang paling umum adalah nasofaringitis akut, faringitis akut, dan laringofaringitis akut.

Ia mengatakan, telemedicine di masa pandemi mengalami kenaikan yang signifikan.

Ketika ada pembatasan sosial tidak bisa ke mana-mana termasuk ke rumah sakit, layanan telemedicine menjadi solusi.

Baca juga: Puskesmas Pondok Ranji Melayani Telemedicine untuk Warga yang Mau Konsultasi dari Rumah

Di masa normal seperti saat inipun, layanan telemedicine tetap bisa menjadi solusi. Banyak keuntungan yang didapat.

"Di Indonesia, semakin banyak perusahaan yang ingin memasukkan telemedicine dan layanan kesehatan digital lainnya sebagai bagian dari paket tunjangan kesehatan bagi karyawan," kata Danu, Selasa (21/6/2022).

Ia mengatakan,  ada dua keuntungan besar menggunakan telemedicine, yaitu waktu tunggu pasien yang lebih singkat dan biaya yang lebih murah.

"Berobat di rumah sakit offline membutuhkan waktu 4–5 jam dengan risiko tinggi terpapar Covid-19, menguras energi, dan membutuhkan usaha tinggi," papar Danu.

Baca juga: Pengguna Telehealth Saat Pandemi Meningkat 40 kali lipat

Sedangkan dengan layanan Good Doctor hanya membutuhkan waktu 40–45 menit karena konsultasi 24/7  (24 jam nonstop 7 hari seminggu, Red) di mana pun dan kapan pun.

"Ketika kita perlu berkonsultasi dengan dokter, kemacetan saat perjalanan ke rumah sakit, bepergian tengah malam ke rumah sakit, atau menggunakan transportasi umum untuk ke rumah sakit yang tentu saja semakin membuat tidak nyaman, tidak akan kita alami lagi," imbuhnya.

Konsultasi secara daring mampu melindungi dokter dan pasien dari terpapar virus Corona atau virus dan penyakit menular lainnya, pengiriman obat secara instan (pasien hanya menunggu di rumah), transaksi dilakukan secara nontunai, dan rata-rata lima kali lebih murah sehingga menghemat limit rawat jalan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved