Mayat di Citra Garden

Pakar Psikologi Forensik Duga Satu Keluarga Tewas di Kalideres Memilih Mati dengan Pikiran Jernih

Satu keluarga yang tewas di Perumahan Citra Garden, Kalideres, Jakarta Barat diduga ingin mati dengan tenang tanpa buat keributan.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Lilis Setyaningsih
Tribunjakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Garis polisi warna kuning dipasang di pagar rumah lokasi penemuan empat jenazah di perumahan Citra Garden Ekstension, Kalideres, Jakarta Barat. 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA -- Satu keluarga yang tewas di Perumahan Citra Garden, Kalideres, Jakarta Barat diduga ingin mati dengan tenang tanpa buat keributan.

Keputusan kematian itu diduga diambil dengan pikiran yang jernih.

Dugaan penyebab kematian satu keluarga di Kalideres itu diungkapkan oleh Psikolog Forensik Reza Indragiri.

Dikutip dari Kompas.com, Psikolog Forensik Reza Indragiri menduga, ada kemungkinan bahwa keempat anggota keluarga itu tengah menyongsong ketenangan menuju kematian.

"Saya membayangkan, adakah kemungkinan empat orang ini secara sungguh-sungguh dengan iktikad penuh memang menyongsong rest in peace. Mereka memang ingin mengakhiri hidupnya dengan cara yang damai," kata Reza, Kamis (17/11/2022).

Reza menduga, satu keluarga itu ingin mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak gaduh.

"Bukan dengan cara yang gaduh. Bukan dengan cara yang bikin kisruh. Tetapi betul-betul ingin secara sengaja menyongsong kematian dengan penuh ketenangan," duga Reza.

Pikiran ini terbesit di kepala Reza lantaran melihat sejumlah fakta yang ditemukan terkait kasus ini.

Dari fakta tersebut timbul kesan bahwa keempat anggota keluarga mempersiapkan kematiannya.

"Berdasarkan pemberitaan media massa, ada beberapa catatan yang boleh jadi merupakan petunjuk kira-kira apa gerangan yang menjadi penyebab orang ini meninggal dunia," kata dia.

Baca juga: Ritual Santhara yang Bolehkan Puasa Hingga Mati, Diduga Terkait Satu Keluarga Tewas di Citra Garden

Catatan pertama yaitu kondisi dalam rumah yang relatif tetap rapih.

"Kita membayangkan tidak ada kegaduhan, tidak ada pertengkaran, tidak ada kekisruhan yang mengakibatkan mereka meninggal dunia. Pertama itu," sebut Reza.

Kedua, permintaan atau inisiatif kepada PLN untuk memutus aliran listrik di rumah itu.

Pemutusan listrik itu diduga agar para korban tidak meninggalkan rumah kosong yang berpotensi menimbulkan kebakaran karena korsleting listrik.

"Jadi saya bayangkan mereka mungkin menghindari kebakaran, menghindari penggunaan listrik, menghindari tagihan, menghindari persoalan-persoalan susulan yang muncul dari listrik apabila terus mengalir," lanjut dia.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved