Senin, 13 April 2026

Waisak

Sejarah Hari Raya Trisuci Waisak, Momen 3 Peristiwa Penting bagi Umat Buddha

Waisak berarti nama bulan dalam kalender Buddhis. Bila disesuaikan dengan kalender masehi, Waisak umumnya jatuh pada akhir April, Mei, atau awal Juni.

Editor: Joseph Wesly
(Shutterstock)
Ilustrasi patung Siddharta Gautama.(Shutterstock) 

TRIBUN TANGERANG.COM, JAKARTA- Hari ini, Kamis (23/5/2024) diperingati sebagai Raya Waisak 2568 BE/2024.

Waisak berasal dari dua bahasa yakni Vaisakha (sanskerta) dan Vesakha (pali) dilansir dari laman Kementerian Agama Republik Indonesia, Kamis (23/5/2024), 

Waisak berarti nama bulan dalam kalender Buddhis. Bila disesuaikan dengan kalender masehi, Waisak umumnya jatuh pada akhir April, Mei, atau awal Juni.

Waisak atau Hari Raya Trisuci Waisak dirayakan setiap tahunnya untuk memperingati tiga peristiwa penting bagi umat Buddha.

1. Kelahiran Pangeran Siddharta

Bodhisattva Siddharta Gautama merupakan calon Buddha yang lahir pada 623 sebelum masehi (SM) di Taman Lumbini.

Dikutip dari berita Kompas.com yang tayang pada Kamis (7/5/2020), Siddharta adalah anak dari Raja Suddodhana dan Ratu Mahamaya.

2. Buddha Gautama mendapat Penerangan Sempurna

Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodh Gaya) pada usia ke-35 tahun saat bulan Waisak.

Pencapaian Penerangan Sempurna adalah salah satu peristiwa yang diperingati pada hari Waisak. Umat Buddha memaknai pencapaian ini sebagai inspirasi dan motivasi untuk berbuat kebajikan.

Bukan hanya tradisi puja saat Waisak tiba, tetapi juga umat Buddha diharapkan dapat meneladani tekad dan sifat-sifat luhur Buddha serta senantiasa melaksanakan dhamma.

3. Wafatnya Buddha Gautama

Menjelang Waisak, umat Buddha akan melakukan bersih-bersih wihara, ziarah ke makam leluhur, dan membersihkan makan pahlawan.

Kegiatan ini berkaitan dengan peristiwa wafatnya Buddha Gautama di Kusinara pada usia 80 tahun pada 543 SM.

Menjelang wafat, Buddha Gautama berpesan "Oh para Bhikkhu, segala sesuatu tidak kekal adanya, berjuanglah dengan kewaspadaan (Maha Parinibbana Sutta)."

Total 45 tahun Sang Buddha menyebarkan kebenaran atau Dharma selama hidupnya. Umat Buddha pun memberikan penghormatan terakhir dengan sujud pada Buddha Gautama.

Penghormatan tertinggi pada Sang Buddha juga bisa dilakukan dengan melaksanakan Dhamma dalam berbagai segi kehidupan yakni kehidupan sehari-hari, beragama, berbangsa dan bernegara.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved