Mengenang Cerita Terdahulu, Kesaksian 23 Wartawan Kompas
Pertemuan ini terjadi setelah rampungnya penulisan dan pencetakan buku berjudul "Kesaksian 23 Wartawan Kompas: Amanat Hati Nurani Rakyat".
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, PONDOK AREN - Sekelompok pria dan wanita paruh baya berkumpul dalam suasana penuh nostalgia di kawasan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Kamis (26/6/2025).
Mereka bukan tokoh biasa, karena mereka adalah para wartawan senior yang pernah mengabdi di Harian Kompas, dengan segudang pengalaman yang jarang diketahui publik.
Pertemuan ini terjadi setelah rampungnya penulisan dan pencetakan buku berjudul "Kesaksian 23 Wartawan Kompas: Amanat Hati Nurani Rakyat".
Buku bersampul putih ini menjadi wadah untuk menuturkan kisah mereka saat menjalani profesi sebagai wartawan, mulai dari masa mesin ketik hingga era digital.
Saat TribunTangerang.com mengikuti acara tersebut, nampak satu per satu mereka bercerita, mengungkap kembali pengalaman jurnalistik yang penuh warna.
Buku ini memiliki sejumlah subjudul yang unik dan menarik, masing-masing mewakili kisah pribadi dan pengalaman jurnalistik yang berbeda dari para wartawan Kompas. Beberapa di antaranya:
Lahirnya Kompas si Bayi Raksasa, Gaya Rocker Melamar di Kompas, Ke Jakarta Lewat Wayang Buddha, Penyelundup dari Pulau Besar, Badil, Aslinya Nama Penarik Becak, Dari 'Jalan Tikus' ke Negara Konflik, Penjaja Koran Jadi Wartawan, Kecanduan Jadi Wartawan, Lelaki Tapanuli Kelahiran Ngawu.
Buku ini juga memuat kisah-kisah menarik lainnya seperti, Ditegur Humas, Dihardik Jenderal, Wartawan Menag dari Depok, Undur Diri karena Masalah Politik, Wartawan Bergelar Bangsawan, Dibawa Lokomotif "Meledak" ke Kompas, Seniman Puniman Jadi Wartawan, Motret dari Atap Bus di Don Muang.
Tak sampai disitu, cerita menarik lainnya seperti cita-cita Insinyur tapi Jadi Wartawan, Buntuti Bung Karno ke Puncak, Dua Kali Terbang Perdana, Melihat Indonesia Mini di Kompas, Pakai Filipina Menyindir Indonesia, Wartawan Jadi Duta Besar, Era Mesin Tulis dan Digital dan Serikat Pekerja Wartawan Kompas.
Rikard Bagun (69) menjadi satu dari 23 Wartawan Kompas yang memberikan kesaksian menceritakan bahwa dirinya menceritakan pengalaman hidupnya saat menghadapi tantangan bukan hanya soal teknis pekerjaan, melainkan tekanan dari sistem kekuasaan saat itu.
"Tantangan terberat kami bukan soal menulis, karena kami dilatih menulis dengan baik dan benar. Tapi, tidak semua kebenaran bisa ditulis,” kata Rikard Bagun, Pondok Aren, Tangsel, Kamis (26/6/2025).
Rikard Bagun mengungkapkan bahwa sensor, tekanan politik, dan batasan narasi menjadi kenyataan sehari-hari yang harus dihadapi dengan kehati-hatian dan kebijaksanaan.
Oleh karena itu, Rikard memastikan bahwa buku ini juga menjadi catatan penting tentang evolusi media. Dari era mesin tik hingga era digital.
Ia menggambarkan bahwa saat itu, wartawan generasinya mampu menyusun berita dalam waktu singkat, bahkan menulis naskah dalam 15 menit hanya dengan ide yang sudah tertanam kuat di kepala.
| Oknum Wartawan di Bogor Diduga Terlibat Peredaran Obat Terlarang, Masyarakat Desak Usut Tuntas |
|
|---|
| Calon Peserta Tangerang 10K Mulai Padati Booth Race Pack Collection |
|
|---|
| Waluyo Siap Hadapi Tantangan Tangerang 10K demi Hidup Sehat di Usia Senja |
|
|---|
| Persiapan Tangerang 10K Capai 100 Persen, Libatkan Dishub hingga Warga |
|
|---|
| Dorong Ketahanan Pangan, Zulhas Nilai Kompas 100 CEO Forum Perkuat Ekosistem Ekonomi Rakyat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Rikard-Bagu-737644.jpg)