Sabtu, 11 April 2026

Buku Kesaksian 23 Wartawan Kompas, Catatan Jurnalisme, Bukan Sekadar Nostalgia

Sebanyak 23 wartawan menulis sebuah buku kolektif yang mengangkat kisah nyata dunia kewartawanan dari sudut pandang para pelakunya sendiri.

TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico
PELUNCURAN BUKU - Albert Kuhon editor buku "Kesaksian 23 Wartawan Kompas: Amanat Hati Nurani Rakyat" (TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico). 

Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, PONDOK AREN - Sebanyak 23 wartawan menulis sebuah buku kolektif yang mengangkat kisah nyata dunia kewartawanan dari sudut pandang para pelakunya sendiri.

Buku ini hadir sebagai bentuk refleksi atas kerja jurnalistik di tengah maraknya informasi dari media sosial dan berkembangnya citizen journalism yang kerap disalahartikan sebagai jurnalisme profesional.

Albert Kuhon editor buku "Kesaksian 23 Wartawan Kompas: Amanat Hati Nurani Rakyat" mengatakan bahwa buku ini disusun selama lebih dari delapan tahun melibatkan kontribusi dari 23 wartawan senior dari Harian Kompas.

Mereka membagikan pengalaman pribadi, tantangan di lapangan, serta refleksi tentang perubahan dunia media dari masa ke masa.

“Ini bukan buku teori. Ini catatan lapangan. Tentang bagaimana menjadi wartawan, dan seperti apa sebenarnya kerja wartawan itu,” kata Albert kepada TribunTangerang.com, Pondok Aren, Tangsel, dikutip Minggu (29/6/2025).

Albert mengatakan isi buku ini menceritakan berbagai sisi kewartawanan mulai dari proses mencari fakta, keputusan etis di balik berita, hingga tekanan eksternal yang sering kali tak terlihat publik. 

Di era digital saat ini, di mana batas antara wartawan dan netizen makin kabur, buku ini hadir untuk menegaskan kembali perbedaan mendasar antara jurnalisme dan sekadar membagikan informasi.

“Banyak yang mengira citizen journalism itu sama dengan jurnalisme. Padahal, jurnalisme punya standar, etika, dan tanggung jawab yang berbeda,” tambahnya.

Setiap tulisan menawarkan sudut pandang unik, ada yang membahas tantangan peliputan konflik, pengalaman diliputi sensor di era Orde Baru, hingga kisah-kisah humanis di balik berita-berita besar.

Menariknya, proses penyusunan buku ini tidak datang dari seleksi ketat, melainkan undangan terbuka kepada rekan-rekan seprofesinya. 

“Saya umumkan ke teman-teman wartawan "siapa yang mau menulis, silakan kirim" Ternyata yang menjawab hanya sebagian. Tapi justru dari yang sebagian itu, lahirlah tulisan yang sangat kaya dan jujur,” kata Albert.

Dalam buku ini, Albert turut mengisahkan pengalamannya bekerja di tengah ekanan politik, sensor ketat, hingga ancaman fisik bukanlah hal asing bagi para wartawan di era Orde Baru

Ia menceritakan pengalamannya saat meliput peristiwa Petrus (Penembakan Misterius) pada awal tahun 1980, sebuah operasi gelap di mana orang-orang yang dituduh sebagai penjahat ditembak mati tanpa proses hukum.

Situasi sensor ketat di masa itu juga menuntut kreativitas dalam menyampaikan kebenaran. Ketika liputan tentang demo mahasiswa di Indonesia dilarang oleh pemerintah, ia dan rekan-rekannya mencari celah dengan cara cerdas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved