Senin, 27 April 2026

Buku Kesaksian 23 Wartawan Kompas, Catatan Jurnalisme, Bukan Sekadar Nostalgia

Sebanyak 23 wartawan menulis sebuah buku kolektif yang mengangkat kisah nyata dunia kewartawanan dari sudut pandang para pelakunya sendiri.

TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico
PELUNCURAN BUKU - Albert Kuhon editor buku "Kesaksian 23 Wartawan Kompas: Amanat Hati Nurani Rakyat" (TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico). 

“Kami meliput demo mahasiswa di Korea. Lalu diberitakan besar-besaran di sini. Tujuannya jelas, masyarakat bisa melihat kesamaan konteks tanpa harus menyebut Indonesia,” ujarnya. 

Namun strategi itu pun tidak selalu aman. Para atasan media tetap dipanggil dan diperiksa oleh aparat militer.

Kisah-kisah ini menjadi bagian penting dari isi buku yang ditulisnya, yang bukan hanya berisi teori, melainkan juga kesaksian nyata dari jurnalis yang hidup dan bekerja di bawah tekanan. 

“Buku ini bukan nostalgia. Ini catatan kerja jurnalistik dari lapangan, di masa ketika sensor bukan sekadar kebijakan, tapi ancaman nyata,” kata Albert.

Meski tidak bertujuan komersial, ia berharap buku ini bisa menjadi sumber berharga bagi banyak kalangan mahasiswa komunikasi, dosen, praktisi media, hingga masyarakat umum yang ingin memahami bagaimana berita lahir dan apa yang membedakan wartawan dari pencari viral.

“Buku ini saya buat tanpa harapan besar. Tapi semoga bisa jadi pengingat, bahwa jurnalisme adalah kerja serius yang tidak bisa digantikan algoritma atau sensasi," pungkasnya. (m30)

Dapatkan Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini

Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved