Puluhan Warga Blokade SMAN 10 Tangsel Buntut Protes Jalur Domisili SPMB 2025

Puluhan warga di jalan Tegal Rotan Raya, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, melakukan aksi protes di depan SMAN 10 Tangsel, Kamis (4/7/2025).

TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico
AKSES PINTU DIBLOKADE - Suasana SMAN 10 Tangsel yang ditutup oleh warga karena protes tak ada yang diterima, (TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico).   

Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT - Puluhan warga di jalan Tegal Rotan Raya, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, melakukan aksi protes di depan SMAN 10 Tangsel, Kamis (4/7/2025).

Aksi ini dilakukan warga karena anak-anak mereka tidak lolos Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur domisili.

Kekecewaan warga Tegal Rotan terhadap hasil SPMB jalur domisili SMAN 10 Tangsel memuncak hingga berujung aksi. 

Puluhan warga mendatangi sekolah dan membentangkan spanduk di pagar hitam sekolah bertuliskan "Warga menuntut supaya warga Tegal Rotan bisa diterima di SMAN 10 Tangsel".

Aksi tersebut juga sempat menghalangi akses keluar masuk sekolah. Warga memasang empat batang bambu di depan pagar, membuat aktivitas di lingkungan sekolah terganggu.

Junaidi warga mengungkapkan, sebanyak 23 anak dari lingkungan sekitar sekolah dinyatakan gagal masuk, meskipun secara domisili hanya berjarak beberapa meter dari sekolah negeri tersebut.

“Tuntutan kami sederhana, Kami hanya ingin anak-anak kami yang tinggal di sekitar sini bisa bersekolah di SMA ini. Masa rumah cuma 10 meter dari sekolah tapi gak bisa masuk?” ujar Junaidi saat ditemui TribunTangerang.com, Ciputat, Tangsel, Jumat (4/7/2025).

Baca juga: Polemik Jalur Domisili SPMB, Warga Tutup Akses ke SMPN 4 dan SMAN 6 Tangsel

Menurut Junaidi, warga awalnya percaya bahwa jalur domisili berdasarkan domisili akan memudahkan anak-anak mereka diterima.  

"Ternyata domisili itu tetap pakai nilai. Artinya, buat apa diutamakan zonasi kalau akhirnya tetap seleksi nilai?” kata Junaidi.

Dari data yang dimiliki warga, ada 23 anak dari RT sekitar yang mendaftar ke SMAN 10 Tangsel namun semuanya ditolak. 

Lebih lanjut, Junaidi mengatakan formasi mengenai aturan zonasi baru diterima hanya tiga hari sebelum pendaftaran resmi dibuka. 

“Ini sama saja menutup akses pendidikan bagi kami. Padahal sebelumnya, sistem zonasi benar-benar berpihak pada yang tinggal dekat. Tahun ini berubah drastis, kami bingung dan kecewa," kata Junaidi.

Tidak hanya soal teknis penerimaan, warga juga menilai sistem SPMB tahun ini menyisakan luka psikologis bagi anak-anak. 

“Mereka kecewa, merasa tidak dihargai. Padahal semangat sekolah mereka besar. Kalau begini, ke mana lagi kami harus mengadu?” kata Junaidi.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved