SPMB 2025
Penampakan Terkini SMAN 10 Tangsel, Spanduk Tuntutan Warga Masih Menutup Pagar
Gerbang sekolah yang biasanya terbuka menyambut tawa siswa, kini tertutup oleh spanduk lusuh putih dan tiga batang bambu yang membentang kaku.
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT - Suasana siang ini masih terasa panas di depan Sekolah Menengah Atas (SMA) 10 Kota Tangerang Selatan, Ciputat.
Gerbang sekolah yang biasanya terbuka menyambut tawa siswa, kini tertutup oleh spanduk lusuh putih dan tiga batang bambu yang membentang kaku.
Di atas kain putih yang membentang di gerbang sekolah, terdapat tulisan berwarna merah mencolok menyuarakan harapan warga.
"Warga menuntut semua warga Tegal Rotan bisa diterima di SMAN 10 Tangsel," tertulis dalam sepanduk putih, dikutip TribunTangerang.com, Ciputat, Tangsel, Jumat (11/7/2025).
Di samping spanduk itu, terpajang karton putih yang dipenuhi tanda tangan warga sebagai bentuk dukungan agar anak-anak mereka bisa bersekolah.
Tampak pula beberapa siswa berlalu-lalang di lingkungan sekolah dengan seragam putih abu-abu, menandakan aktivitas masih berjalan seperti biasa.
TribunTangerang.com telah berupaya menghubungi kepala sekolah untuk meminta keterangan terkait keresahan warga, namun hingga kini belum mendapatkan jawaban.
Sebelumnya diberitakan, warga di jalan Tegal Rotan Raya, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, melakukan aksi protes di depan SMAN 10 Tangsel, Kamis (4/7/2025).
Aksi ini dilakukan warga karena anak-anak mereka tidak lolos Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur domisili.
Kekecewaan warga Tegal Rotan terhadap hasil SPMB jalur domisili SMAN 10 Tangsel memuncak hingga berujung aksi.
Warga bernama Junaidi mengungkapkan, sebanyak 23 anak dari lingkungan sekitar sekolah dinyatakan gagal masuk, meskipun secara domisili hanya berjarak beberapa meter dari sekolah negeri tersebut.
“Tuntutan kami sederhana, Kami hanya ingin anak-anak kami yang tinggal di sekitar sini bisa bersekolah di SMA ini. Masa rumah cuma 10 meter dari sekolah tapi gak bisa masuk?” ujar Junaidi saat ditemui TribunTangerang.com, Ciputat, Tangsel, Jumat (4/7/2025).
Menurut Junaidi, warga awalnya percaya bahwa jalur domisili berdasarkan domisili akan memudahkan anak-anak mereka diterima.
"Ternyata domisili itu tetap pakai nilai. Artinya, buat apa diutamakan zonasi kalau akhirnya tetap seleksi nilai?” kata Junaidi.
Kepala SD Negeri Ciledug Barat Terancam Dicopot bila Terbukti Jual Paksa Seragam Sekolah |
![]() |
---|
Kepala SDN Ciledug Barat Diduga Lakukan Pungli, Dindikbud Tangsel Ambil Tindakan Tegas |
![]() |
---|
Kepsek SDN Ciledug Barat Disebut Suruh Siswa Pindah Sekolah bila Tak Bisa Beli Seragam Rp 1,1 Juta |
![]() |
---|
Penjual Pempek di Tangsel Tak Sanggup Bayar Seragam Rp 1,1 Juta, 2 Anak Terancam Tak Sekolah |
![]() |
---|
Andra Soni Buka Suara soal Kisruh SPMB di Tangerang, Dorong Sekolah Swasta Gratis sebagai Solusi |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.