Forum Logam dan Mineral 2025 Soroti Transformasi Besar Industri Tambang Indonesia
Forum ini menjadi wadah penting bagi para pemimpin industri dari hulu hingga hilir untuk membahas transformasi sektor pasar logam dan mineral.
TRIBUNTANGERANG.COM - Sektor pertambangan Indonesia kini berada di persimpangan jalan, didorong oleh kekayaan mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit yang menjadi fondasi industri masa depan, namun sekaligus dihadapkan pada tantangan geopolitik dan fragmentasi harga global.
Menanggapi dinamika kompleks ini, DBS Bank Ltd (Bank DBS) sukses menggelar The 4th Metal and Mining Forum 2025: Forging Global Connections di Jakarta.
Forum ini menjadi wadah penting bagi para pemimpin industri dari hulu hingga hilir untuk membahas transformasi sektor, perkembangan regulasi, serta tren terbaru di pasar logam dan mineral.
Selain itu, forum ini bertujuan mendorong pertukaran pengetahuan antar ahli di Asia dan meningkatkan masuknya Investasi Asing Langsung (FDI) ke Indonesia.
Dalam pidato kuncinya, Managing Director, Global Head of Metals and Mining, DBS Bank Ltd, Mike Zhang, menyoroti tekanan signifikan yang dihadapi industri mineral global.
"Industri mineral global kini menghadapi tekanan dari fragmentasi pasar dan pergeseran geoekonomi. Hambatan perdagangan sejak 2024 paling terasa pada mineral kritis dengan konsentrasi pasokan tinggi,” ujar Zhang.
Ia menambahkan, bahwa penerapan tarif impor AS terhadap nikel, seng, dan kobalt, serta pembatasan ekspor Tiongkok pada logam tanah jarang, mengancam prinsip ‘hukum harga tunggal’ dan memicu perbedaan harga antar pasar.
Di tengah ketidakpastian ini, muncul tantangan yang disebut ‘trilemma energi’: bagaimana memastikan energi tetap terjangkau, andal, dan berkelanjutan tercapai secara simultan demi menjaga stabilitas.
Tantangan ini sangat relevan bagi Indonesia, yang menetapkan 47 komoditas sebagai “mineral kritis” yang menjadi tulang punggung transformasi teknologi dan menyumbang 10-11 persen PDB nasional. Oleh karena itu, strategi hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas menjadi kunci utama.
Meskipun kondisi global menantang, permintaan logam diproyeksikan tetap kuat. Diperkirakan kebutuhan investasi pertambangan dalam satu dekade mendatang akan mencapai USD 3,5 triliun secara global, dengan fokus belanja modal terkonsentrasi pada tembaga (35 persen) dan emas (17 % ).
Dari sisi domestik, Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, memberikan sentimen positif.
"Sentimen industri dalam negeri terus membaik, didorong oleh permintaan yang lebih kuat dan meningkatnya belanja pemerintah. Dengan ruang kebijakan yang masih dimiliki pemerintah dan bank sentral, pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap terjaga,” kata Rao, menekankan bahwa perkembangan kebijakan domestik akan menjadi katalis penting.
Data menunjukkan, bahwa Indonesia semakin menjadi destinasi utama FDI, terutama dari Tiongkok dan Hong Kong.
Investasi Tiongkok melonjak dari USD 0,6 miliar pada 2015 menjadi USD 8,1 miliar pada 2024. Secara kumulatif, investasi dari kedua negara pada periode Januari 2019 hingga September 2024 mencapai USD 34,19 miliar, di mana sektor logam dan pertambangan menjadi pendorong utamanya.
Head of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menegaskan komitmen Bank DBS sebagai mitra strategis.
| Pemprov Banten Perkuat Posko dan Satgas Pengawasan Aktivitas Truk Tambang di Bojonegara–Puloampel |
|
|---|
| Kaum Muda dan Perempuan Jadi Fokus Program Literasi dan Inklusi Keuangan Baru di Indonesia |
|
|---|
| Resiliensi Ekonomi RI Jadi Sorotan DBS di Tengah Disrupsi Dunia |
|
|---|
| High Net Worth Individual di Indonesia Bertambah Bank DBS Indonesia Catat Solusi Finansial |
|
|---|
| Lowongan Kerja PT Pamapersada Nusantara, Warga Tangerang Raya Silakan Mendaftar, Buka 15 Posisi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/DBS-Metal-Mining-Forum-2025.jpg)