Selasa, 28 April 2026

Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Baru di Tengah Ancaman Global Warming

CEO ALVAboard Alden Lukman mengatakan perubahan cara pandang soal plastik jadi hal penting yang harus dilakukan sekarang.

Tayang:
Penulis: Nurmahadi | Editor: Joko Supriyanto
Tribuntangerang.com/ALVAboard
Kolaborasi antara ALVAboard dan Rekosistem menjadi langkah strategis dalam menjawab lonjakan sampah kemasan akibat pertumbuhan logistik dan e-commerce di Indonesia.  

Laporan Reporter Tribuntangerang.com, Nurmahadi

TRIBUNTANGERANG.COM, TANGERANG - Isu pemanasan global bukan lagi sekadar wacana lingkungan, tapi sudah jadi tantangan bisnis yang nyata. Hal itu menbuat sektor manufaktur di Asia Tenggara harus beradaptasi lebih cepat. 

Salah satu pendekatan yang mulai banyak didorong adalah ekonomi sirkular, yakni konsep yang memastikan material tidak langsung jadi limbah, melainkan terus dipakai kembali dalam satu siklus. 

Dengan cara ini, tekanan terhadap lingkungan bisa diminimalisir, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Di tengah isu tersebut ALVAboard ikut mengambil peran dengan mendorong pengelolaan material yang lebih bertanggung jawab. 

Bukan hanya memproduksi kemasan, tapi juga memastikan produk yang digunakan bisa kembali ke sistem dan tidak berakhir sebagai sampah.

CEO ALVAboard Alden Lukman mengatakan perubahan cara pandang soal plastik jadi hal penting yang harus dilakukan sekarang.

“Kita perlu mengubah narasi dari sekadar ‘mengurangi plastik’ menjadi ‘mengelola siklus plastik’. Tanggung jawab industri tidak berhenti saat produk digunakan, tapi juga memastikan material tersebut bisa kembali diproses jadi sumber daya baru,” ujarnya kepada wartawan, Senin (20/4/2026).

Alden menjelaskan pihaknya mencoba menerapkan prinsip tersebut lewat desain produk yang bisa dipakai berulang kali dan didaur ulang sepenuhnya. 

Langkah ini dinilai penting untuk menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

“Melalui sistem logistik terbalik, kami ingin memastikan setiap material yang sudah dipakai bisa kembali ke rantai produksi. Ini bukan cuma soal sampah, tapi bagaimana menciptakan nilai baru dari material yang sebelumnya dianggap habis pakai,” kata Alden. 

“Dengan sistem digital, kami bisa melihat perjalanan material secara lebih transparan. Ini penting supaya upaya keberlanjutan tidak sekadar klaim, tapi benar-benar terukur,” tambahnya.

Di kawasan Asia Tenggara, Alden menilai pendekatan seperti ini makin relevan. Sebagai salah satu pusat manufaktur dunia, wilayah ini menghadapi tantangan besar terkait limbah dan emisi industri.

"Karena itu, kolaborasi antara industri, teknologi, dan masyarakat jadi kunci agar ekonomi sirkular bisa berjalan efektif," ujarnya. (m41) 

Dapatkan Informasi lain dari Tribuntangerang.com via saluran Whatsapp di sini

Baca berita TribunTangerang.com lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved