Kesehatan
Kebiasaan Menyebut Overthinking Bisa Menutupi Masalah Mental Serius
Emilya Kusnaidi menilai penggunaan istilah tersebut sering kali tidak tepat dan berpotensi menutupi kondisi yang lebih serius.
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Joko Supriyanto
Laporan Wartawan
Tribuntangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico
TRIBUNTANGERANG.COM, PAGEDANGAN - "Jangan - jangan kita bukan overthinking, tapi lagi cemas tanpa sadar?” Pertanyaan ini membuka diskusi tentang kebiasaan baru di masyarakat yang terlalu mudah melabeli berbagai kondisi sebagai overthinking.
Istilah overthinking semakin populer digunakan dalam percakapan sehari-hari. Mulai dari hal sepele seperti memilih makanan hingga keputusan besar dalam hidup, banyak orang dengan cepat menyimpulkan, “Aku lagi overthinking".
Sepesial Kedokteran Jiwa Rumah Sakit St. Carolus Summarecon Serpong Emilya Kusnaidi menilai penggunaan istilah tersebut sering kali tidak tepat dan berpotensi menutupi kondisi yang lebih serius.
“Kita sekarang terlalu gampang menyebut semua hal sebagai overthinking, padahal tidak semuanya sesederhana itu,” ujar Emilya di Rumah Sakit St. Carolus Summarecon Serpong, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Jumat (1/5/2026).
Menurutnya, overthinking dalam batas tertentu merupakan hal yang wajar. Kondisi ini biasanya muncul ketika seseorang menghadapi situasi tertentu, seperti ujian atau keputusan penting, dan akan mereda setelah situasi tersebut selesai.
"Kalau pemicunya jelas dan setelah selesai kita kembali normal, itu masih dalam batas wajar,” jelasnya.
Namun, masalah muncul ketika rasa cemas tetap bertahan meskipun pemicu sudah tidak ada. Dalam kondisi ini, istilah overthinking kerap digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sebenarnya lebih kompleks.
“Kalau cemasnya terus ada, tidak jelas penyebabnya, dan berlangsung hampir setiap hari, itu sudah mengarah ke gangguan kecemasan,” Emilya.
Ia menambahkan kebiasaan melabeli semua hal sebagai overthinking dapat membuat seseorang mengabaikan tanda-tanda awal gangguan mental. Padahal, gejala tersebut sering kali sudah memberikan sinyal yang cukup jelas.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain gangguan tidur, seperti sulit terlelap atau sering terbangun di malam hari, serta munculnya gejala fisik seperti jantung berdebar, keringat berlebih, hingga rasa mual.
“Banyak yang mengira itu hanya kelelahan biasa, padahal bisa jadi itu bentuk kecemasan yang tidak disadari,” katanya.
Baca juga: Susah Tidur dan Deg-Degan? Jangan Anggap Sekadar Lelah
Emilya menjelaskan kecemasan yang tidak ditangani dapat berdampak pada fungsi sehari-hari, seperti menurunnya produktivitas, menarik diri dari aktivitas, hingga menghindari interaksi sosial.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Dalam beberapa kasus, gangguan kecemasan bahkan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental lain yang lebih kompleks.
“Kalau sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan berlangsung cukup lama, sebaiknya segera mencari bantuan profesional,” ujarnya.
| Susah Tidur dan Deg-Degan? Jangan Anggap Sekadar Lelah |
|
|---|
| Menurut Psikolog, Kebiasaan Menyimpan Barang Berlebihan Bisa Jadi Gangguan Mental |
|
|---|
| Kisah Warga Kelapa Dua Hidup di Rumah Penuh Barang, Psikolog Ingatkan Bahaya Hoarding Disorder |
|
|---|
| 5 Cara Perawatan di Rumah yang Disarankan Dinkes saat Gejala Campak Muncul |
|
|---|
| Selama Mudik Lebaran 2026, Peserta JKN Tetap Bisa Akses Layanan BPJS Kesehatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Emilya-Kusnaidi-89.jpg)