Jumat, 15 Mei 2026

Hantavirus

Dinkes Tangsel Ingatkan Gejala Awal Hantavirus, Jangan Abaikan Demam

Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, Hantavirus merupakan penyakit zoonotik yang ditularkan dari tikus dan celurut.

Tayang:
Tribuntangerang.com/Tribunnews.com
ILUSTRASI HANTAVIRUS - Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Hantavirus yang dapat menimbulkan gejala mulai dari demam hingga gangguan pernapasan berat.  

Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

TRIBUNTANGERANG.COM, CIPUTAT - Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Hantavirus yang dapat menimbulkan gejala mulai dari demam hingga gangguan pernapasan berat. 

Meski belum ditemukan kasus di Kota Tangerang Selatan, Dinas Kesehatan mengingatkan pentingnya mengenali gejala dan bahaya penyakit tersebut sejak dini.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, Hantavirus merupakan penyakit zoonotik yang ditularkan dari tikus dan celurut.

Penularan dapat terjadi melalui cairan tubuh hewan pengerat, seperti urine, feses, saliva, maupun debu yang telah terkontaminasi virus.

"Penyakit ini disebabkan oleh Orthohantavirus yang ditularkan dari tikus dan celurut. Penularannya bisa melalui cairan tubuh maupun debu yang terkontaminasi,” kata Allin di Ciputat, Tangsel, Jumat (15/5/2026).

Ia menjelaskan, secara klinis Hantavirus memiliki dua bentuk utama penyakit, yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). 

Keduanya memiliki tingkat keparahan yang berbeda, namun sama-sama berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat.

Menurut Allin, HFRS umumnya ditandai dengan gejala demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga gangguan fungsi ginjal. Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami perdarahan akibat gangguan pembuluh darah.

Sementara itu, HPS lebih banyak menyerang sistem pernapasan. Gejalanya dapat berkembang dari demam dan tubuh lemas menjadi sesak napas berat akibat penumpukan cairan di paru-paru.

“Secara klinis, penyakit ini dapat menimbulkan dua bentuk utama, yaitu HFRS dan HPS, dengan gejala mulai dari demam, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan berat,” ujarnya.

Allin menuturkan, masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam disertai gangguan pernapasan, terutama setelah kontak dengan tikus atau berada di lingkungan yang diduga terkontaminasi kotoran hewan pengerat.

Ia mengatakan, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena berdasarkan laporan global terdapat temuan klaster kasus Hantavirus tipe HPS di kapal pesiar internasional. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menyebabkan penyebaran lintas negara.

Di Indonesia sendiri, kasus Hantavirus tipe HFRS telah dilaporkan di sejumlah provinsi sejak 2024 hingga 2026. Sementara untuk tipe HPS belum pernah dilaporkan, namun tetap berpotensi terjadi sebagai kasus importasi dari luar negeri.

“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menghindari kontak dengan tikus dan kotorannya,” tutup Allin. (m30)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved