Kolom Trias Kuncahyono
Rara Mendut
Jadi, kalau tradisi feodalisme masih sangat kuat, demikian pula intrik politik kerajaan yang dibalut dengan feodalisme juga kuat, tidaklah aneh.
Kini zaman sudah berubah—walau ada yang masih merasa di zaman lalu, istilahnya zaman kuda gigit besi.
Maka, berbagai komentar miring bahkan miring sekali yang bertubi-tubi dialamatkan padanya karena profesinya, tidak membuat Rara ciut nyali.
Ia setegar Rara Mendut menghadapi Tumenggung Wiraguna yang menggunakan kekuasaannya untuk mewujudkan nafsunya.
Walau tindakan Rara disebut sebagai “kebodohan” di zaman moderen ini.
Ada yang cerewet (maaf), usil, suka mengkafirkan orang lain (menganggap dirinya paling saleh, paling suci) suka mensirikkan orang lain, senang membodoh-bodohkan dan mendungu-ndungukan orang lain (menganggap dirinya paling pandai, paling pinter). dan ada pula yang lebih suka memuja-muja budaya asing serta membuang budaya sendiri yang adiluhung tapi dianggap usang dan harus dibuang.
Ada pula yang menganggap apa yang dilakukan Rara sebagai tidak bernalar dan berbau klenik.
Yang lain menganggapnya sebagai tindakan memalukan dan mendekatkan diri pada jin.
Dan, beragam hujatan lainnya yang hanya membuktikan bahwa kita paling hebat dalam hal menghujat orang lain; sekaligus paling sulit untuk mengakui kehebatan orang lain.
Tapi untung, Rara sudah sangat paham akan tabiat, karakter, “penyakit” sebagian—semoga sebagian kecil bahkan kecil sekali saja—anggota masyarakat zaman sekarang.
Sama dengan Rara Mendut, yang paham akan intrik politik dan tradisi feodalisme yang sangat kuat pada masa itu.
Sekarang bukan hanya intrik politik tetapi juga agama; agama yang dipolitisasi. Sedikit-sedikit dipolitisasi.
III
Apakah itu adalah “buah” dari kemajemukan, kebhinnekaan kita? Semestinya bukan.
Atau apakah ada yang salah dari masyarakat kita ini? Apakah kita dan sebagian anggota masyarakat sedang sakit?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/rara-mendut-soe.jpg)