Selasa, 21 April 2026

Pertamina : Pandemi Melandai Terjadi over kapasitas konsumsi BBM subsidi

Pertamina akui saat ini konsumsi BBM solar subsidi sudah melebihi kapasitas yang ditentukan pemerintah.Namun, pasokan secara keseluruhan cukup

Penulis: Desy Selviany | Editor: Lilis Setyaningsih
Dok. Pertamina MOR III
ilustrasi - tangki BBM milik Pertamina 

TRIBUNTANGERANG.COM, JAKARTA - Pertamina akui saat ini konsumsi BBM solar subsidi sudah melebihi kapasitas yang ditentukan pemerintah.

Namun, pasokan secara keseluruhan cukup.

Hal itu dikemukakan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati.

Namun, belakangan Pertamina menerima kabar adanya antrean panjang di sejumlah daerah untuk BBM jenis solar.

Antrean panjang terjadi pada BBM subsidi yang sebenarnya hanya diperuntukan untuk industri kecil, UMKM, angkutan umum, dan angkutan logistik bahan pokok.

Baca juga: Harga Pertalite Dikabarkan Bakal Naik, Pertamina Beri Tanggapan

"Jadi ada koutanya, ada batasan dari pemerintah untuk BBM Subsidi, dan hari ini sudah over kouta," ungkap Nicke di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (8/4/2022).

Kata Nicke, over kapasitas konsumsi BBM subsidi terjadi lantaran mulai normalnya aktivitas usai pelandaian pandemi Covid-19.

Saat ini, aktivitas usaha pascapandemi bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan. 

Maka, Nicke mengklaim, bahwa over kapasitas terjadi bukan karena penyelundupan melainkan untuk konsumsi sektor yang berhak dapat subsidi BBM.

Baca juga: Kejati Banten Tahan Empat Tersangka Dugaan Korupsi Terkait Kilang Pertamina

Diketahui harga perliter solar yang disubsidi dari pemerintah senilai Rp7.800 perliter. Maka kata Nicke, nilai itu cukup signifikan.

Oleh karena itu, Nicke berharap masyarakat bisa ikut menjaga distribusi BBM subsidi dengan aktif melaporkan adanya dugaan penyalahgunaan.

Penyalahgunaan BBM bisa dilaporkan ke Call Center 135.

Pertamina juga berterima kasih kepada Polri yang mengungkap kasus-kasus penyelundupan BBM.

Baca juga: Sesal Musanam Setelah Terima Uang Miliaran Rupiah dari Pertamina

"Maka kami terima kasih ke Kapolri dan jajaran yang telah bantu tertibkan monitoring di lapangan agar subsidi tepat sasaran," bebernya.

Sementara itu Wakil Menteri BUMN Pahala Nugraha Mansury memastikan bahwa pihaknya akan memantau Pertamina dalam mengantisipasi kelangkaan BBM menjelang Idul Fitri 1443 H.

Hal itu mengingat meningkatnya mobilitas masyarakat yang meningkat selama massa-massa libur hari raya nanti.

"Kami juga tentunya sudah memastikan adanya ketersediaan stok baik itu untuk produk Pertalite, dan juga untuk produk BBM Bio Solar," kata Pahala.

Baca juga: Eksplorasi Pertamina Temukan Cadangan Migas di Wilayah Jambi

Terkait dengan antrean panjang di sejumlah SPBU, Pertamina disebut sudah langsung turun kepada masing-masing daerah untuk bisa memastikan ketersediaan stok ini tercukupi.

Pahala mengakui saat ini pemakaian stok BBM subsidi melampaui apa yang menjadi mininum stok yang ada.

"Kalau misalnya memang ada penyalahgunaan, ada masyrakat yang tidak berhak untuk bisa memanfaatkan bbm tersebut, maka tentunya diperlukan langkah-langkah untuk bisa memastikan adanya tindakan sesuai dengan peraturan yang ada," bebernya.

Sebelumnya Polri tangkap 19 tersangka yang menyalahgunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar subsidi.

Baca juga: Erick Thohir Ngamuk Toilet SPBU Bayar Rp2.000, Pertamina: Kalau Mau Ngasih Itu Sifatnya Sukarela

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengakui peningkatan kebutuhan solar subsidi. Sementara kebutuhan terhadap solar industri alami penurunan.

Fenomena itu terjadi karena kenaikan trend komoditas khususnya di perkebunan dan pertambangan.

Sementara saat ini Indonesia terdampak perang Ukraina dan Rusia yang mengakibatkan berkurangnya stok minyak dan gas. 

Hal ini kata Kapolri juga berdampak ke seluruh negara selain Indonesia.

Sehingga sebagian jenis BBM harganya dinaikan, namun untuk jenis solar harganya tetap karena disubsidi dan diperuntukan untuk masyarakat kecil.

Baca juga: AHY Tanggapi Keluhan Nelayan soal Solar Langka, Minta Jangan Ada Mafia Lakukan Penimbunan

Karena perbedaan harga itu terjadi disparitas harga yang cukup jauh yakni Rp12.500.

"Terjadi disparitas tinggi antara solar subsidi dan solar industri, gapnya Rp12.500. Jadi hal inilah yang di lapangan disalahgunakan oleh kelompok masyarakat tertentu," jelas Listyo di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (8/4/2022).

Disparitas harga ini dimanfaatkan oleh spekulan untuk mengambil kebutuhan solar industri dari SPBU subsidi.

Hal ini menambah beban bagi pemerintah dan ini akan menimbulkan masalah ketersediaan BBM subsidi di masyarakat.

Baca juga: Beredar Surat Bos Pertamina Minta Bantuan TNI untuk Amankan Objek Vital Perusahaan, Ada Apa?

Sebab, di satu sisi BBM subsidi yang diperuntukan hanya untuk masyarakat seperti untuk transportasi umum, dan UMKM justru beralih untuk BBM industri.

Dari fenomena tersebut  melakukan penyelidikan dan menangkap 19 tersangka pengoplos BBM subsidi.

"Kami sudah tangkap 19 tersangka di enam wilayah," jelas Listyo.

Diharapkan dari penangkapan itu, distribusi bbm subsidi bisa diberikan ke masyarakat yang membutuhkan. Sementara kebutuhan industri akan disediakan untuk kouta industri. (Des)

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved