Lifestyle
Tren Freelancer Sedang Meningkat, Solos Ramaikan Platfrom e-commerce
World Bank mencatat pertumbuhan pelaku freelancing mencapai 30 persen setiap tahunnya dengan dominasi segmentasi usia 18-44 tahun.
TRIBUNTANGERANG.COM, CANGU -- Saat ini, tren freelancing sedang meningkat di dunia.
Diprediksi terdapat 70 juta freelancers dan solo entrepreneur di Asia Tenggara.
Nilai pemasukan tahunan freelancers (pekerja lepas) di Asia Tenggara tersebut mencapai $93 miliar.
World Bank mencatat pertumbuhan pelaku freelancing mencapai 30 persen setiap tahunnya dengan dominasi segmentasi usia 18-44 tahun.
Baca juga: Survei: Bekerja dari Rumah Membuat Karyawan Sulit Membagi Waktu Antara Pekerjaan dan Urusan Pribadi
Penelitian School of Business University of Brighton menyatakan bahwa 97 persen pekerja lepas lebih bahagia daripada pekerja kantoran.
Tren yang sama terjadi di Indonesia.
Badan Pusat Statistik mencatat 33,34 juta orang bekerja sebagai freelancer dan small business owners hingga Agustus 2020.
Angka ini naik 4,32 juta orang atau 26 persen dari tahun sebelumnya.
Baca juga: Komarudin Bagikan Tips Lulusan SMA/SMK Meraih dan Memenangkan Kompetisi Peluang Pekerjaan
CEO Solos Ricky Willianto mengatakan, pasokan tenaga kerja yang menginginkan pekerjaan jam 9-5 (kerja pukul 09.00 - 17.00, Red) kini semakin berkurang.
Terutama untuk kategori pekerjaan yang banyak diminati seperti teknik, desain, UI/UX, penelitian, pembinaan (training), dan strategi.
Solos merupakan platforom e-commerce yang membantu solopreneur (solo entrepreneur) dan freelancer menjual layanan mereka dengan cepat dan mudah secara online.
Ia mengatakan, bekerja sebagai freelancer selain faktor fleksibilitas waktu dan tempat bekerja, ada kecenderungan sosial yang mendasari, terutama di kalangan generasi muda, untuk mendapatkan pekerjaan yang memiliki makna bagi hidup mereka.
Baca juga: Pura-pura Tawarkan Pekerjaan di Medsos dan Ajak Ketemuan, Saat Lengah Ponsel Korban Diambil
Hal ini dapat berupa melakukan pekerjaan yang berdampak positif bagi dunia, atau bahkan hanya pekerjaan yang selaras dengan nilai-nilai pribadi seseorang seperti kreativitas atau kebebasan.
Akibatnya, perusahaan berjuang untuk mengisi jumlah karyawan mereka, dan karena itu mereka mencari cara alternatif untuk bekerja dengan generasi muda.
"Perusahaan sukses seperti Google sudah memanfaatkan tenaga kerja kontrak dan freelancers dalam bisnis mereka," kata Ricky.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Ricky-Willianto-CEO-Solos.jpg)