Kuliner Jakarta
Kuliner Jakarta, Warteg Warmo Sejak 1969 Buka 24 Jam Kini Punya 60 Menu
Warteg Warmo berdiri sejak 1969 silam. Tahun berdirinya tertera di kaca depan Warteg Warmo bertuliskan "SINCE 1969".
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Lilis Setyaningsih
"Kalau dulu pemilik pertama bapak saya. Dulu waktu pertama bapak itu dapat lokasi di sini, karena tidak kuat beli akhirnya ajak adiknya bapak, yaitu paman saya Bapak Haji Tumuh, kalau bapak saya namanya Pak Haji Dasir. Beliau sudah almarhum semua," katanya.
Baca juga: Kuliner Jakarta, Segarnya Es Doger dan Podeng Super Mang Apay Kumis Tea di Matraman Sejak 1975
Sejak 1969, Warteg Warmo sudah buka 24 jam, tetapi warung makan di Jakarta pada saat itu jarang ada yang buka selama kurun waktu tersebut karena alasan keamanan.
"Setelah tahun 1983, mungkin tahu Petrus (penembak misterius), ya? Nah semenjak ada Petrus itu baru mulai keamanan ini terjamin lah, karena sebelumnya hampir tidak ada warung yang buka 24 jam," ujar Saryoto.
Keberanian ayah Saryoto itulah membuat Warteg Warmo buka 24 jam.
Pada malam atau dini hari, banyak orang yang selepas menyambangi tempat hiburan malam merasa lapar.
Sehingga Warteg Warmo dirasa menjadi solusi di saat perut keroncongan.
"Di Jakarta waktu itu kan masih banyak hiburan malam ya, kayak Kalijodo, Kramat Tunggak, terus lingkungan Manggarai, dan masih wilayah sekitar Tebet lah. Mereka itu kan mencari hiburan malam, pas pulang lapar cari makan mungkin tahu dari mulut ke mulut bahwa di sini ada warung makan yang buka 24 jam," kata dia.
"Akhirnya mereka itu pada lari ke warung bapak saya. Mungkin kalau yang sekitar tahun 70-80 suka keluyuran pasti kenal Warmo lah kalau masih wilayah Jakarta. Nah itu pertama kali warung bapak saya banyak dikenal," lanjutnya.
60 Menu
Seiring banyaknya orang yang makan sejak awal Warteg Warmo dibuka, membuat makanan sudah tandas sebelum jam 12 malam.
"Terus akhirnya besoknya gitu terus, ada pelanggan ini yang mungkin kesal tiap malam sudah jauh-jauh sampah ke sini makanannya cuma ada telur. Karena pada waktu itu bapak saya stok, jadi gampang. Dulu kan belum ada pasar yang sampai 24 jam jadi kalau belanja harus pagi," ujar dia.
"Pas kehabisan malam, tidak ada stok. Waktu itu bapak stoknya telur, itu ada yang sampai marah, ya mungkin orangnya agak mabuk juga, "Jadi gimana sih pak? Niat jualan nggak? Masa tiap hari saya dikasih makan telur mulu, telur mulu". Marah sampai gebrak meja segala macam," sambungnya.
Orang yang mabuk itu kemudian diajak pergi oleh temannya.
Lantas, teman si pemabuk meminta maaf lantaran sikap tersebut.
"Temannya yang sadar itu minta maaf. "Maaf pak, teman saya ini lagi mabuk, jadi kalau tingkah lakunya kasar, minta maaf". Nah, bapak saya sadar setelah itu," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Warteg-Warmo.jpg)