Sejarah Jakarta

Sejarah Jakarta: Mengenal Trem yang Jejaknya Ditemukan pada Pembangunan MRT Fase 2

Sejarah Jakarta: Mengenal Trem yang ada Sejak Hindia Belanda, Jejaknya Ditemukan pembangunan MRT fase 2

Penulis: Desy Selviany | Editor: Lilis Setyaningsih
Istimewa
Hindia Belanda gunakan trem untuk transportasi Batavia 

Pada tahun 1930, perusahaan trem uap dan trem listrik kemudian bergabung dan menjadi Batavia Verkeer Maatschappij (BVM).

Selain dibangun jalur kereta yang menghubungkan kota di luar Batavia, Pemerintah Hindia Belanda juga membangun jalur trem dalam kota yang memungkinkan orang untuk melakukan perjalanan jauh dengan waktu efisien

Setidaknya ada tiga generasi trem di Batavia. Keempat generasi trem tersebut yakni Trem Kuda, Trem Uap, dan Trem Listrik.

1. Trem Kuda Batavia

Pada tahun 1869, hadir trem kuda yang merupakan angkutan umum berupa kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda atau lebih yang berjalan di atas rel dengan lebar 1.118 milimeter yang mampu mengangkut 40 orang atau lebih.

Pembangunan jaringan Trem Kuda Batavia direncakan tahun 1860 yang dicetuskan oleh J.Babus du Mares yang mendapatkan ide dari trem kuda di Amerika Serikat.

Ia berpendapat bahwa kuda jawa merupakan hewan pejalan kaki yang baik dan dimanfaatkan sebagai alat transportasi yang efisien bisa menarik 2-3 gerbong dengan membawa 30-40 orang dengan kecepatan cukup

Trem Kuda Batavia dikelola oleh BTM dengan rute dari Pasar Ikan-Harmoni-Meester Cornelis.

Daerah Kramat tepatnya di Gang Sekola, dibangun depo trem yang dikhususkan untuk menyimpan kuda-kuda yang akan menarik trem kuda.

Di Depo Kramat, kuda tersebut diberi kandang-kandang dan diberikan pangan seperti jerami agar kuda tersebut tetap dalam kondisi baik.

Baca juga: Sejarah Jakarta, TMII Diresmikan 20 April 1975, Awalnya Diusulkan Dibangun dekat Hotel Indonesia

Kereta yang digunakan oleh BTM yaitu berasal dari pabrikan Bonneford di Perancis yang nantinya akan digunakan oleh BTM untuk membawa penumpang dan gerbong tersebut akan disimpan di Depo Kramat bersamaan dengan kudanya.

Tarif trem kuda ini cukup murah yaitu hanya 10 sen dan melintas setiap lima menit dari pukul lima pagi hingga pukul delapan malam.

Uniknya dalam trem kuda tidak dilakukan pemisahan kelas, tetapi tarif yang diterapkan berbeda untuk bangsa Eropa dan pribumi.

Walaupun tidak dilakukan pemisahan kelas, hal ini membuat berbaurnya berbagai macam etnis dalam trem kuda.

Sebelumnya, trem kuda memiliki dua kelas yaitu kelas satu untuk golongan orang Eropa dan kelas dua untuk kelas pribumi, tetapi karena kuda yang tidak kuat menarik dua gerbong, maka kelas satu pun dihapus pada bulan Agustus 1869 dan trem kuda menggunakan satu kelas saja yaitu kelas dua

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved