Sejarah Jakarta
Sejarah Jakarta: Mengenal Trem yang Jejaknya Ditemukan pada Pembangunan MRT Fase 2
Sejarah Jakarta: Mengenal Trem yang ada Sejak Hindia Belanda, Jejaknya Ditemukan pembangunan MRT fase 2
Penulis: Desy Selviany | Editor: Lilis Setyaningsih
Trem listrik (De Elektrische Tram) merupakan transportasi umum praktis dan bebas polusi menggunakan tenaga listrik yang terkenal di wilayah Eropa
Gagasan mengenai trem listrik di Batavia telah diusulkan sejak tahun 1886 yang dicetuskan oleh Van Zwieten (ahli listrik dari Belanda yang tinggal lama di Batavia).
Dia yakin dengan kehadiran trem listrik akan menjadikan transportasi yang efisien.
Pada tanggal 10 April 1899, trem listrik diresmikan dengan rute Kebun Binatang-Harmoni yang dikelola oleh BETM.
Peresmian trem listrik disambut gembira oleh masyarakat Batavia walaupun terdapat insiden adanya sabotase yang dilakukan oleh kusir sado dengan meletakkan batu besar di tengah rel sebagai tanda kekecewaan mereka karena adanya pesaing transportasi
BETM memiliki depo yang digunakan untuk menyimpan dan merawat trem listriknya yang terletak di daerah Cikini tepatnya di Jalan Kali Pasir.
Trem listrik yang digunakan yaitu berasal dari pabrikan bernama Dyle en Becalan yang berasal dari Belgia yang dibuat tahun 1899 dan pada tahun 1912 dibuat oleh pabrikan Belanda Beijnes yang menggunakan jenis trem EMR C dan ABC yang menggunakan sistem listrik trolley.
Adapun rute trem listrik yang melintas di Batavia yakni Harmoni-Kebon Binatang Cikini, Kebon Binatang Cikini-Sipajersweg, Sipajersweg–Amsterdamse Poort 5, Kali Besar Wetan-Jakarta Poost 1, Menteng-Gambir-Harmoni 3, dan Gambir-Vrijmetselaarsweg 2.
Pasokan listrik yang digunakan untuk menggerakkan trem listrik berasal dari perusahaan listrik Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) yang pembangkitnya berada di daerah Meester Cornelis.
Baca juga: Sejarah Jakarta, Sarinah, Mal Pertama dan yang Punya Eskalator di Indonesia
Pembangkit listrik yang ada di Batavia menggunakan air sebagai penggerak generator listrik, karena air di Batavia cukup melimpah.
Trem listrik juga menerapkan pemisahan kelas yaitu kelas satu untuk orang Belanda dengan tarif sebesar 15 sen, kelas dua untuk orang timur asing dengan tarif 10 sen, dan kelas tiga untuk orang pribumi dengan tarif 5 sen.
Trem listrik pernah mengalami masalah banjir tahun 1918.
Banjir tersebut membuat trem listrik tidak bisa beroperasi karena rel terendam air, yang membuat mogok dan rusak akibat
banjir besar.
Bahkan ketika musim hujan, sering terjadi masalah pada pembangkit listrik akibat konsleting yang terjadi dan membuat trem listrik menjadi tidak bisa digerakkan.