Kolom Trias Kuncahyono
Terawan dan Cuci Otak
Barangkali, apa yang dialami Prof Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) bisa dimasukkan dalam kategori ironi.
Dalam rumusan Edward Hunter, proses cuci otak ini “mengubah secara radikal (isi otak) sehingga pemiliknya menjadi boneka hidup—robot manusia—yang tampaknya dari luar tidak ada kesan kejam.”
Jadi, pada awal mulanya brainwashing berarti indoktrinasi intensif Maoisme dan penindasan kejam terhadap ideologi politik alternatif.
Karena itu, Hunter yang dikenal sebagai wartawan, penulis, tukang propaganda, dan agen dinas rahasia AS ini mengingatkan bahayanya cuci otak ini.
Hunter menyatakan, polisi rahasia China dan Uni Soviet mengembangkan teknik yang hebat ini untuk memanipulasi otak,
Proses cuci otak ini adalah “mengubah secara radikal (isi otak) sehingga pemiliknya menjadi boneka hidup—robot manusia—yang tampaknya dari luar tidak ada kesan kejam.”
Tentu, “cuci otak” yang dilakukan Terawan, tidaklah demikian. Paling tidak Handrawan Nadesul menyebutnya brain flushing, kuras otak.
III
Soal cuci otak ini, sahabat saya Ken Setiawan, pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, pernah bercerita.
Kata Ken yang pernah menjadi korban cuci otak NII, anak-anak muda ya laki-LAKI, ya perempuan dicuci otaknya tidak hanya agar benci pada negara, bahkan pada orangtuanya sendiri.
Jadi, ini sesuai dengan pengertian yang disodorkan Merriam-Webster. Brainwashing adalah indoktrinasi paksa untuk mendorong seseorang melepaskan keyakinan serta sikap politik, sosial, atau agama dan untuk menerima ide-ide yang baru bertentangan (www.merriam-webster.com)
Otak mereka dibersihkan dari segala macam pikiran lama, pandangan lama, keyakinan lama, dan juga ideologi lama digantikan dengan semua yang serba baru: pikiran, pandangan, keyakinan, dan ideologi.
Misalnya, kata Ken, mereka tidak boleh mengakui NKRI, tidak boleh mengakui Pancasila sebagai ideologi dan dasar bangsa, juga dilarang mengakui UUD 1945 sebagai dasar negara.
Menyanyikan lagu Indonesia Raya juga dilarang. Demikian juga patuh dan menghormati orangtua, dilarang.
Mereka dicekoki agama dan nilai-nilai agama versi para pencuci otak.
Ini, tentu juga beda bahkan sangat berbeda dengan DSA (Digital Substraction Angiography) dan juga cuci otak Dokter Terawan.
Yang satu urusan medis, yang satunya lagi urusan idiologi-politik. Ya, nggak ketemu.
IV
Maka benar yang dikatakan Anatole France, bersama ironi kita bisa merenung kembali dengan hati riang tentang hal ihwal yang berlebihan; dan jadi lebih bijaksana…. dan selalu ingat bahwa in omnibus caritas, dalam segala hal bermurah hati meskipun ironis…..
Tetapi, sayangnya, di negeri ini terlalu banyak ironi….***
Baca kolom Trias Kuncahyono selengkapnya di: Terawan dan Cuci Otak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/terawan-IDI.jpg)