Partai Politik
Dituding Benny K Harman Pakai Pola Pikir Adolf Hitler, Yusril: Masih Untung Saya Enggak Dijuluki PKI
Judicial Review AD/ART yang diajukan Yusril, dinilai ingin menguji apakah negara senang atau tidak dengan organisasi sipil.
Negara totaliter menghendaki rakyat mengikuti apa saja kemauan negara.
Yusril mengatakan, omongan Benny terkait keinginan negara untuk memaksakan kehendak, tidak ada pijakan intelektual sama sekali.
Pertama, menurut Yusril, sejak 2007 hingga sekarang, dirinya tidak lagi memiliki jabatan kenegaraan apapun, dan dia berada di luar pemerintah dan lembaga negara manapun juga.
Dia mengatakan dirinya adalah manusia bebas dan merdeka.
"Tidak ada kepentingan apapun pada saya untuk membuat rezim senang atau tidak senang dengan rakyatnya."
"Kebijakan Pemerintah Presiden Jokowi pun tidak jarang saya kritik."
"Saya memang bukan bagian dari pemerintah,” tegas Yusril.
Kedua, Yusril mengatakan, AD/ART Partai Demokrat ini bukan dia uji dengan kehendak penguasa, melainkan diuji dengan undang-undang.
Dua undang-undang utama yang dijadikan sebagai batu uji AD Demokrat adalah UU No 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dan segala perubahannya, dan UU No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dan perubahannya.
Semua ini dengan jelas diuraikan dalam permohonan JR ke Mahkamah Agung itu.
Kedua, UU yang dijadikan batu uji itu justru dibuat ketika Presiden RI dijabat Susilo Bambang Yudhoyono.
Sementara, di DPR Fraksi Partai Demokrat, yang Benny Harman menjadi anggota dan ikut membahas serta menyetujui kedua undang-undang itu.
Dia lantas mempertanyakan apakah kedua UU yang dirinya jadikan batu uji adalah produk rezim pengikut Hitler.
“Kalau begitu maksud Benny Harman, maka pengikut pemikiran Hitter itu adalah Presiden SBY dan DPR zaman itu, termasuk Benny Harman di dalamnya."
“Dalam seluruh argumentasi filosofis, teoritis dan yuridis Permohonan Pengujian AD Demokrat ke Mahkamah Agung itu, tidak satupun literatur Hitler atau Nazi pada umumnya terkait dengan konsep negara totaliter yang saya jadikan rujukan."
"Juga tidak ada satu kalimatpun yang menguji AD Partai Demokrat dengan rasa senang atau tidak senangnya penguasa."
"Maka bagaimana Benny Harman bisa menyimpulkan saya mengikuti pikiran Hitler?” Tanyanya. (Reza Deni/Vincentius Jyestha)