Kolom Trias Kuncahyono

Melihat Ukraina dari Kacamata Rusia

Beberapa perang dimulai ketika tindakan defensif satu negara dianggap mengancam oleh negara lain dan menghasilkan spiral aksi dan reaksi.

Istimewa
Masuknya tentara Rusia ke Ukraina terjadi setelah Presiden Viktor Yanukovych yang pro-Moskwa digulingkan pada Februari 2014. Foto Ilustrasi: Peta. 

TRIBUNTANGERANG.COM -- Perang tidak selalu merupakan produk dari ambisi ofensif. Beberapa perang dimulai ketika tindakan defensif satu negara dianggap mengancam oleh negara lain dan menghasilkan spiral aksi dan reaksi.

Masing-masing pihak percaya bahwa tindakannya sendiri adalah wajar dan perlu.

Masing-masing menyalahkan yang lain atas agresi dan menuntut penghormatan atas garis merah keamanannya.

Tetapi, apa sesungguhnya yang terjadi di Ukraina sekarang ini?

Menurut kacamata Barat, pemicu krisis Ukraina saat ini adalah Rusia, sifat agresif Rusia.

Argumennya, sejak tahun 2014  Rusia meningkatkan kehadiran militernya di Krimea wilayah Ukraina. Tindakan itu dikecam masyarakat internasional.

Bahkan, MU PBB, 7 Desember 2020 mengeluarkan resolusi yang menegaskan bahwa Krimea adalah wilayah Ukraina dan mengecam “pendudukan tersebut” dan tidak mengakui aneksasi itu.

Masuknya tentara Rusia ke Ukraina terjadi setelah Presiden Viktor Yanukovych yang pro-Moskwa digulingkan pada Februari 2014.

Tetapi, banyak pihak yang berpendapat bahwa penggulingan Yanukovych hanya sebagai dalih atas keputusan Presiden Vladimir Putin untuk menggerakkan tentaranya ke Ukraina, yang merupakan cita-cita lama.

Maka,  ketika kini menurut berita yang tersiar pasukan Rusia ada di dekat perbatasan Ukraina bagian timur, dianggap sebagai upaya Rusia untuk menuntaskan sisanya (wilayah Ukraina yang lain) menguasai Ukraina.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved