Perubahan Iklim Bikin Ilmu Titen Ambyar, BMKG Gencarkan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan
Bahkan, tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan dan menjadi korban akibat badai dan gelombang tinggi.
TRIBUNTANGERANG, TRENGGALEK - Ilmu titen yang kerap menjadi pegangan nelayan, kini ambyar akibat perubahan iklim.
Hal itu dikatakan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.
Alhasil, katanya, tidak jarang nelayan harus pulang dengan tangan kosong karena hasil melaut tidak maksimal.
Baca juga: MUI: Vaksin Covid-19 Zifivax Halal dan Suci
Bahkan, tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan dan menjadi korban akibat badai dan gelombang tinggi.
"Ilmu titen sudah sangat sulit untuk dijadikan acuan."
"Cuaca dan iklim saat ini begitu sangat dinamis dan sukar untuk ditebak," ujar Dwikorita saat membuka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis (7/10/2021), dikutip dari laman bmkg.go.id.
Baca juga: Ingin Pemilu Digelar Sesuai Usul Awal KPU, PKS: Demokrasi Tak Boleh Melahirkan Duka
Dwikorita mengatakan, perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat.
Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi, tapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia.
Seperti, kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian, termasuk ekosistem wilayah pesisir.
Baca juga: Targetkan 20 Kursi di DPR, Partai Buruh Dinilai Terlalu Percaya Diri
Dwikorita mencontohkan saat banjir besar yang menyergap Jabodetabek di pengujung 2019 hingga awal 2020 silam.
Berdasarkan prakiraan yang terkonfirmasi dari analisis BMKG, kejadian tersebut disebabkan seruak udara dingin (cold surge) dari Tibet ke Hong Kong, yang selanjutnya masuk ke wilayah Jabodetabek.
Cold surge sendiri merupakan seruakan yang mengandung massa udara dingin dari daratan Asia ke arah selatan.
Baca juga: BMKG Luncurkan SIRITA, Ponsel Bakal Berbunyi Keras Seperti Sirene Saat Ada Peringatan Dini Tsunami
Artinya, kata dia, perubahan iklim inilah yang kemudian menjadi biang keladi cuaca ekstrem yang kerap menghantam Indonesia.
Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es.
Meski bukan berasal dari Indonesia, lanjut dia, dampaknya bisa dirasakan oleh Indonesia.
Baca juga: Tak Peduli Kapanpun Digelar, Partai Ummat Siap Bertarung di Pemilu 2024
"Perubahan iklim sendiri adalah peristiwa global, namun dampaknya dirasakan secara regional ataupun lokal."
"Tidak ada batasan teritorial negara," tuturnya.
Dwikorita menyebut, kondisi inilah yang memacu BMKG menggencarkan pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di daerah-daerah pesisir pantai.
Baca juga: Agung Mozin dan Neno Warisman Mundur, Ketua Umum Partai Ummat: Itu Persoalan Kecil
Melalui SLCN yang digelar, BMKG ingin nelayan dapat melaut, mendapatkan hasil dan pulang dengan selamat.
SLCN, lanjutnya, bertujuan meningkatkan keterampilan nelayan Indonesia dalam mengakses, membaca, menindaklanjuti, dan mendiseminasikan informasi cuaca, iklim maritim, serta informasi prakiraan lokasi ikan dari sumber yang terpercaya.
SLCN juga menjadi bagian dari ikhtiar BMKG mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Baca juga: UPDATE Covid-19 Indonesia 8 Oktober 2021: 3.514 Pasien Sembuh, 1.384 Orang Positif, 66 Meninggal
"Kegiatan SLCN ini menggunakan pembelajaran interaktif, yaitu metode belajar dan praktik."
"Materi pokok yang akan diberikan yaitu pengenalan produk dan memahami informasi cuaca dan iklim maritim."
"Cara membaca informasi maritim dan pengenalan alat-alat observasi," jelasnya.
Luncurkan SIRITA
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluncurkan EWS Radio Broadcaster dan aplikasi SIRITA (Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert) di Cilacap, Jawa Tengah, Senin (4/10/2021).
Dua inovasi ini diluncurkan untuk mengantisipasi potensi tsunami di selatan Jawa.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, peluncuran dua inovasi ini sebagai respons BMKG atas meningkatnya aktivitas kegempaan di Indonesia.
Baca juga: Partai Buruh Targetkan Rebut 20 Kursi di DPR dan Menang di 10 Kabupaten/Kota Saat Pilkada
Berdasarkan pengamatan BMKG, selama periode 2008-2016, rata-rata terjadi 5.000 hingga 6.000 kali gempa bumi.
Pada 2017 meningkat menjadi 7,169, lantas mulai 2018 hingga 2019 melompat menjadi lebih dari 11.500 kali dalam satu tahun.
Meskipun kemudian agak menurun menjadi 8.258 kali di tahun 2020, jumlah ini masih di atas rata-rata kejadian gempa bumi tahunan di Indonesia.
Baca juga: Pandemi Covid-19 Bikin Jumlah Orang Miskin di Indonesia Bertambah Menjadi 10,19 Persen
Dwikorita menjelaskan, EWS Radio Broadcaster merupakan moda diseminasi berbasis suara, guna mengantisipasi kerusakan jaringan komunikasi selular pasca-gempa merusak.
Sistem ini memanfaatkan jaringan komunikasi berbasis radio yang banyak digunakan oleh pegiat kebencanaan dan komunitas radio berbasis masyarakat, seperti RAPI dan ORARI.
Sistem ini sebagai hub untuk menyebarkan informasi secara cepat, akurat, serta ramah terhadap kelompok masyarakat rentan yang memiliki keterbatasan menelaah pesan berbasis teks.
Baca juga: Partai Ummat Optimis Tembus 5 Besar di Pemilu 2024
Sedangkan SIRITA adalah aplikasi sirene tsunami berbasis android, yang dibuat untuk memudahkan pemerintah daerah menyampaikan perintah evakuasi kepada masyarakat sebagai bentuk peringatan dini.
Dwikorita menyebut inovasi yang diprakarsai Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara ini, menjadi terobosan di tengah kendala banyaknya sirene tsunami yang mati akibat usia pakai.
"Di era saat ini, saya yakin hampir semua orang telah memiliki ponsel pintar berbasis android."
Baca juga: UPDATE Vaksinasi Covid-19 RI 8 Oktober 2021: Dosis Pertama 99.373.294, Suntikan Kedua 56.908.664
"Paling tidak, dalam satu rumah tangga pasti ada yang memiliki ponsel pintar, bisa jadi bahkan lebih."
"Maka dari itu, aplikasi ini akan sangat bermanfaat sebagai bentuk peringatan dini evakuasi bagi masyarakat di pesisir pantai," tutur Dwikorita, dikutip dari laman bmkg.go.id.
Dwikorita membeberkan, dipilihnya Cilacap sebagai tempat peluncuran inovasi teranyar BMKG tersebut, karena pusat perekonomian dan pemerintahan di kabupaten ini berada di pesisir pantai.
Baca juga: Dikurangi Menjadi Lima Hari, Sandiaga Uno Ingin Ada Resor Khusus untuk Karantina Wisatawan
Sedangkan jarak evakuasi menuju tempat yang relatif aman cukup jauh, sehingga cukup memakan waktu.
Di Cilacap juga, tambah Dwikorita, terdapat berbagai objek vital nasional dan strategis, di antaranya Kilang Minyak Pertamina, Pembangkit Listrik Tenaga Uap, dan pabrik semen Dynamix.
"Berdasarkan pemodelan, potensi ketinggian tsunami berkisar belasan meter, dengan estimasi kedatangan tsunami sekitar 50 menit."
Baca juga: Beredar Surat M Kece Cabut Laporan Polisi Terhadap Irjen Napoleon Bonaparte, Mengaku Tanpa Tekanan
"Namun, karena wilayah pesisir Cilacap sangat padat penduduk, maka butuh waktu lebih untuk proses evakuasi."
"Terlebih tempat evakuasi cukup jauh sekitar 2 hingga 4 kilometer," paparnya.
Harapannya, keberadaan EWS Broadcaster dan SIRITA ini dapat meminimalisir jumlah korban jiwa jika sewaktu-waktu gempa bumi dan tsunami menerjang selatan Pulau Jawa.
Baca juga: Meski Sudah Diizinkan BPOM, Pemerintah Belum Niat Pakai Zifivax untuk Program Vaksinasi Nasional
Dwikorita menyebut penggunaan teknologi digital dan aplikasi yang terkoneksi satu sama lain akan meningkatkan efektivitas sistem peringatan dini yang dikeluarkan.
Karena, dapat menghindarkan dari terputusnya rantai alur informasi peringatan dini dari BMKG kepada masyarakat.
Dwikorita mengungkapkan, keterbatasan jaringan komunikasi kerap menjadi salah satu kendala saat penyebaran peringatan dini, karena tidak jarang jaringan komunikasi selular mengalami gangguan usai gempa merusak.
Baca juga: Minta Teroris MIT Poso Menyerah, Narapidana Terorisme: Turunlah, Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi
Kendala inilah yang coba BMKG pecahkan dengan meluncurkan EWS Broadcaster dan SIRITA.
"Khusus SIRITA, handphone yang menginstal aplikasi SIRITA akan berbunyi keras layaknya sirene apabila BMKG mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi tsunami."
"Jadi, kendala seperti tidak tersampaikannya peringatan dini kepada masyarakat bisa diminimalisir."
Baca juga: Pemerintah Usulkan Pemilu 2024 Digelar pada 15 Mei, Mardani Ali Sera Anggap Tak Etis
"Pun, akibat jauhnya tempat tinggal dengan lokasi sirene karena sifat handphone yang sangat personal."
"Bunyi sirene yang keluar dari handphone didefinisikan sebagai perintah untuk segera melakukan evakuasi, mencari dataran tinggi atau tempat-tempat yang lebih tinggi guna menghindari terjangan tsunami," terangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tangerang/foto/bank/originals/Kepala-BMKG-Dwikorita-Karnawati.jpg)